š” Belum disahkan sepenuhnya
Ā·
ID B003
Maklumat status sumber
Bahan ini terdapat dalam koleksi, tetapi provenance/bibliografi atau naskhah asal belum disahkan sepenuhnya.
Label ini menerangkan status rujukan; ia tidak mengubah kandungan asal halaman.
KIMIA KEBAHAGIAAN
KIMIA KEBAHAGIAAN
TERJEMAHAN KIMYATU SA'ADAH Kimia Kebahagiaan
Khazanah-khazanah lunan yang mengandung kimia ini, ada pada hati para nabi. Siapa saja yang mencarinya di tempat lain akan kecewa dan bangkrut di hari kemudian, yakni ketika ia mendengar firman... "Telah Kami angkat tirai itu darimu, dan pandanganmu pada hari ini sangatlah tajam..." (QS 50:22)
Imam Ghazali
DISALIN SEMULA OLEH ADNAN AL YANI
KIMIA KEBAHAGIAAN
Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi Imam al-Ghazali (450-505H)
Diterjemahkan dari The Alchemy of Happiness, karangan al-Ghazâl, terbitan J. Murray, London, 2001, dengan merujuk pada edisi bahasa Arab, Kîmiyâ' al-Sa'âdah, terbitan Daral-Fikr,
Hak terjemahan Indonesia pada Penerbit Zaman. Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit
Penerjemah: Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy
Pewajah Isi: Siti Qomariyah zamanJln. Kemang Timur Raya No. 16Jakarta 12730
Disalin semula oleh: Adnan Bin Dahalan No 21, Jalan Temiang Jaya 7/6, Taman Temiang Jaya, 84000, Muar, Johor No tel / Whatapp : +6017 755 9292
KATA PENGANTAR
KETAHUILAH, MANUSIA tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi tujuan yang mulia. Meski bukan bagian dari Yang Kekal, ia hidup selamanya; meski jasadnya rapuh dan membumi, ruhnya mulia dan bersifat ilahi. Melalui tempaan zuhud, ia sucikan dirinya dari nafsu jasmani dan mencapai tingkatan tertinggi, tidak menjadi budak nafsu, dan meraih sifat-sifat malakut. Ia temukan surganya dalam perenungan tentang Keindahan Abadi dan tak lagi memedulikan kenikmatan badani. Kimia ruhani yang mampu menghasilkan perubahan seperti ini, layaknya kimia yang mengubah logam biasa menjadi emas, tak mudah ditemukan.
Buku ini ditulis untuk menjelaskan kimia ruhani tersebut beserta metode operasinya. Khazanah ilahi yang menuturkan kimia ini terkandung dalam hati para nabi. Siapa saja yang mencarinya di tempat lain pasti akan kecewa dan terpuruk di hari berbangkit, ketika dikatakan kepadanya:
"Telah Kami angkat tirai itu darimu, dan pandanganmu pada hari ini sangatlah tajam. (Q. 50:22)"
Allah telah mengutus ke dunia ini 124 ribu orang nabi untuk mengajar manusia tentang resep kimia ini dan bagaimana cara menyucikan hati mereka dari sifat-sifat hina melalui zuhud. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa Kimia Kebahagiaan adalah berpaling dari dunia untuk menghadap kepada Allah. Kimia Kebahagiaan terdiri atas empat elemen, yaitu pengetahuan tentang diri, pengetahuan tentang Allah, pengetahuan tentang dunia sebagaimana adanya, dan pengetahuan tentang akhirat sebagaimana adanya. Mari kita jelajahi satu demi satu keempat elemen tersebut.
MENGENAL DIRI
MENGENAL DIRI adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis: "Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya,"
dan sebagaimana dikatakan Alquran:
Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka. (Q. 41: 53)
Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu tentang diri sendiri dari sisi lahiriah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tak akan mengantarmu untuk mengenal Tuhan. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisik dirimu, seperti bahwa kalau lapar kau makan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukanlah kunci menuju pengetahuan tentang Tuhan. Bagaimana bisa kau mencapai kemajuan dalam perjalanan jika kau mengandalkan insting hewani serupa itu? Sesungguhnya pengetahuan yang benar tentang diri meliputi beberapa hal berikut:
Siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan? Ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam dalam dirimu: hewan, setan, dan malaikat. Harus kau temukan, mana di antara ketiganya yang aksidental dan mana yang esensial. Tanpa menyingkap rahasia itu, kau tak akan temukan kebahagiaan sejati.
Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur, dan berkelahi. Karena itu, jika engkau hewan, sibukkanlah dirimu dalam aktivitas itu. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, tipu daya, dan dusta. Jika kau termasuk golongan setan, lakukan yang biasa ia kerjakan. Sementara, malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sepenuhnya bebas dari sifat hewani. Jika kau punya sifat malaikat, berjuanglah menemukan sifat-sifat aslimu agar kau dapat mengenali dan merenungi Dia Yang Mahatinggi, serta terbebas dari perbudakan syahwat dan amarah. Berupayalah untuk mencari tahu mengapa kau diciptakan dengan kedua insting hewan ini-syahwat dan amarah-sehingga kau tidak ditundukkan dan diperangkap keduanya. Alih-alih diperbudak keduanya, kau harus menundukkan mereka dan mempergunakannya sebagai kuda tunggangan dan senjatamu.
Langkah pertama untuk mengenal diri adalah menyadari bahwa dirimu terdiri atas bentuk luar yang disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut hati atau ruh. Hati yang saya maksudkan bukanlah segumpal daging yang terletak di dada kiri, melainkan tuan yang mengendalikan semua fakultas lainnya dalam diri serta mempergunakannya sebagai alat dan pelayanannya. Pada hakikatnya, ia bukan sesuatu yang indriawi, melainkan sesuatu yang gaib; ia muncul di dunia ini sebagai pelancong dari negeri asing untuk berdagang dan kelak akan kembali ke tanah asalnya. Pengetahuan tentang wujud dan sifat-sifat inilah yang menjadi kunci mengenal Tuhan.
Sebagian pemahaman mengenai hakikat hati atau ruh dapat diperoleh seseorang dengan mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain dirinya sendiri. Dengan begitu, ia akan mengetahui ketakterbatasan sifat dirinya itu. Namun, syariat melarang kita menelisik hakikat ruh sebagaimana ditegaskan Alquran: "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan: (soal) ruh adalah urusan Tuhanku." (Q. 17:85).
Jadi, sedikit yang dapat diketahui hanyalah bahwa ia merupakan suatu esensi tak terbagi yang termasuk dalam dunia titah (amr), dan bahwa ia bukanlah sesuatu yang abadi, melainkan ciptaan. Pengetahuan filosofis yang tepat mengenai ruh bukanlah awl yang niscaya untuk meniti jalan ruhani.
Pengetahuan itu akan didapatkan melalui disiplin-diri dan kesabaran menapaki jalan ruhani, sebagaimana dikatakan Alquran:
Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami yang lurus.(Q. 29: 69).
Untuk memahami lebih jauh perjuangan batin untuk benar-benar mengenal diri dan Tuhan, kita dapat melihat jasad kita sebagai sebuah kerajaan; jiwa sebagai rajanya dan indra beserta fakultas lain sebagai tentara-nya. Akal bisa disebut perdana menterinya, syahwat sebagai pemungut pajak, dan amarah sebagai polisi. Dengan alasan mengumpulkan pajak, syahwat selalu ingin merampas segala hal demi kepentingan sendiri, sementara amarah cenderung bersikap kasar dan keras. Pemungut pajak dan polisi harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tak mesti dibunuh atau ditindas, karena mereka punya peran tersendiri yang harus dipenuhinya. Tetapi, jika syahwat dan amarah menguasai nalar maka jiwa pasti runtuh. Jiwa yang membiarkan fakultas-fakultas yang lebih rendah menguasai yang lebih tinggi ibarat orang yang menyerahkan bidadari kepada seekor anjing, atau seorang muslim kepada seorang raja kafir yang zalim. Memelihara sifat-sifat setan, hewan, atau malaikat akan melahirkan watak yang bersesuaian dengannya yang di hari kiamat akan mewujud dalam rupa yang kasatmata, seperti syahwat menjadi babi, amarah menjadi anjing dan serigala, serta kesucian mewujud dalam rupa malaikat.
Pendisiplinan moral bertujuan membersihkan hati dari karat syahwat dan amarah sehingga sebening cermin yang mampu memantulkan cahaya Ilahi. Mungkin ada pembaca yang keberatan dan menanyakan, 'Jika manusia diciptakan dengan sifat-sifat hewan, setan, dan malaikat, bagaimana kita bisa tahu bahwa sifat malaikat adalah esensi kita, sementara sifat hewan dan setan hanyalah aksidensi?'
Jawabannya, esensi setiap makhluk adalah sesuatu yang tertinggi dan khas dalam dirinya. Contohnya, kuda dan keledai adalah hewan pengangkut beban, tetapi kuda lebih unggul karena ia dipergunakan juga untuk perang. Jika tidak, kuda terpuruk hanya menjadi hewan pengangkut beban. Fakultas tertinggi dalam diri manusia adalah akal yang memampukannya merenung tentang Tuhan. Jika akal mendominasi maka ketika mati ia terbebas dari kecenderungan syahwat dan amarah sehingga dapat bergabung dengan para malaikat. Dibandingkan dengan beberapa jenis hewan, manusia jauh lebih lemah. Berkat akal, ia dapat mengungguli mereka sebagaimana dikatakan Alquran:
"Telah Kami tundukkan segala sesuatu di atas bumi untuk manusia" (Q. 45:13).
Sebaliknya, jika sifat hewani atau setan yang berkuasa maka setelah mati ia akan selalu menghadap kebumi dan mendambakan kesenangan duniawi.
Betapa mengagumkan, jiwa rasional (akal) manusia berlimpah dengan pengetahuan dan kekuatan. Berkat keduanya ia dapat menguasai seni dan sains, mampu bolak-balik dari bumi ke angkasa secepat kilat, dapat memetakan langit dan mengukur jarak antarbintang. Berkat ilmu dan kekuatan ia juga dapat menangkap ikan dari lautan dan burung di udara, bahkan kuasa menundukkan binatang liar seperti gajah, unta, dan kuda.
Panca indranya bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap dunia luar. Namun yang paling menakjubkan dari semua itu adalah hatinya yang memiliki jendela terbuka kedunia ruh yang gaib. Dalam keadaan tidur, ketika saluran indranya tertutup, jendela ini terbuka menerima berbagai gambaran dari dunia gaib, yang kadang-kadang mengabarkan isyarat tentang masa depan.
Hatinya bagaikan sebuah cermin yang memantulkan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh. Tetapi, bahkan di saat tidur, pikiran-pikiran yang bersifat duniawi akan memburamkan cermin tersebut sehingga kesan-kesan yang diterimanya tidak jelas. Bagaimanapun, saat kematian datang, semua pikiran seperti itu akan sirna dan hakikat segala sesuatu tampak sejelas-jelasnya. Saat itulah yang dimaksud dalam ayat di atas: Kamu lalai dari (hal) ini. Kami singkapkan tutup matamu sehingga penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.(Q. 50: 22).
Jendela dalam hati itu juga dapat terbuka dan mengarah ke dunia gaib di saat-saat yang menyerupai ilham kenabian, yakni ketika intuisi muncul dalam pikiran tanpa melalui perangkat indriawi. Makin seseorang memurnikan dirinya dari hasrat badani dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, semakin peka terhadap intuisi-intuisi seperti itu. Orang yang tidak menyadari intuisi semacam itu tak berhak menyangkal keberadaannya. Dan tidak hanya para nabi yang bisa menerima intuisi seperti itu. Layaknya sebatang besi yang terus dipoles akan berubah menjadi cermin, pikiran siapa pun akan mampu menerima intuisi seperti itu jika dilatih dengan disiplin yang keras.
Kebenaran inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ketika beliau bersabda: "Setiap anak dilahirkan dengan fitrah (kecenderungan menjadi muslim); orang tuanya kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
Setiap manusia, dilubuk terdalam kesadarannya mendengar pertanyaan "Bukankah Aku ini tuhanmu?" dan menjawab "Ya". Tetapi kebanyakan hati manusia bagaikan cermin yang telah tertutup karat dan kotoran sehingga tidak dapat memantulkan gambaran yang jernih.
Berbeda dengan hati para nabi dan wali, meski mereka pun memiliki nafsu serupa kita, sangat peka terhadap kesan-kesan ilahiah. Sebagaimana dikatakan di atas, jiwa rasional dilimpahi pengetahuan dan kekuatan.
Jadi, intuisi seperti itu tak hanya bisa diraih dengan pengetahuan yang membuat manusia lebih unggul dari semua makhluk lainnya-tetapi juga dengan kekuatan. Sebagaimana malaikat menguasai pelbagai kekuatan alam, jiwa manusia pun berkuasa mengatur semua anggota badan. Jiwa yang telah mencapai tingkat kekuatan tertentu, tidak saja dapat mengatur jasadnya sendiri, melainkan juga jasad orang lain. Jika ia ingin agar seseorang yang sakit sembuh, si sakit akan sembuh, atau jika ingin seseorang yang sehat agar jatuh sakit, sakitlah orang itu, atau jika ia inginkan kehadiran seseorang, orang itu akan datang di hadapannya. Baik atau buruk akibat yang ditimbulkan oleh jiwa yang sangat kuat ini bergantung pada sumber kekuatannya, sihir ataukah mukjizat.
Siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan?
Ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam dalam dirimu: hewan, setan, dan malaikat. Harus kau temukan mana di antara ketiganya yang aksidental dan mana yang esensial. Tanpa menyingkap rahasia itu, kau tak akan temukan kebahagiaan sejati.
hal yang membedakan jiwa yang sangat kuat ini dari jiwa orang kebanyakan:
1. Apa yang dilihat orang lain hanya dalam mimpi, mereka melihatnya di saat jaga.
2. Sementara kehendak orang lain hanya memengaruhi jasad mereka, jiwa ini, dengan kekuatan kehendaknya, bisa pulamenggerakkan jasad orang lain.
3. Jika orang lain mesti belajar keras untuk mendapatkan suatu pengetahuan, ia mendapatkannya melalui intuisi.
Tentu saja ada banyak hal lain yang membedakan jiwa mereka dari jiwa kebanyakan manusia. Namun, ketiga tanda itulah yang dapat diketahui umum. Sebagaimana tidak sesuatu pun yang mengetahui hakikat sifat-sifat Tuhan kecuali Tuhan, sifat sejati seorang nabi pun hanya diketahui oleh nabi. Tak perlu merasa heran, karena dalam kehidupan sehari-hari pun kita tak mungkin menerangkan keindahan puisi pada seseorang yang tak peka terhadap rima dan irama, atau menjelaskan keindahan warna kepada seseorang yang buta. Selain ketidak mampuan, ada perintang-perintang lain untuk mencapai kebenaran spiritual.
Satu diantaranya adalah pengetahuan capaian lahiriah. Jelasnya, hati manusia bisa digambarkan sebagai sumur dan pancaindra sebagai lima aliran yang terus mengaliri sumur itu. Untuk mengetahui kandungan hati yang sebenarnya, kita harus menghentikan aliran-aliran tersebut dan membersihkan sampah yang dibawanya. Dengan kata lain, jika kita ingin sampai kepada kebenaran ruhani yang murni, kita mesti membuang pengetahuan yang telah dicapai melalui proses indriawi dan yang sering kali mengeras menjadi prasangka dogmatis.
Namun, banyak juga orang yang salah kaprah menyikapi pengetahuan capaian lahiriah ini. Banyak orang yang dangkal ilmunya seraya mengutip beberapa ungkapan yang mereka dengar dari guru-guru sufi bercuap-cuap mencela dan menajiskan semua jenis pengetahuan. Ia tak ubahnya seseorang yang tak tahu kimia lalu berkoar: "Kimia lebih baik daripada emas," seraya menolak emas ketika ditawarkan kepadanya. Kimia memang lebih baik dari emas, tetapi alkemis sejati amatlah langka, begitu pun sufi sejati. Orang yang hanya mengenal kulit tasawuf tidak lebih baik daripada seorang terpelajar.
Demikian pula, orang yang baru mencoba beberapa rumus kimia, tak punya alasan untuk menghina seorang kaya. Setiap orang yang mengkaji persoalan ini akan melihat bahwa kebahagiaan sejati tak bisa dilepaskan dari makrifat (mengenal Tuhan). Tiap fakultas dalam diri manusia menyukai segala sesuatu yang untuk itu ia diciptakan.
Syahwat senang memenuhi hasrat nafsu, kemarahan menyukai balas dendam, mata menyukai pemandangan indah, dan telinga senang mendengar suara-suara merdu. Jiwa manusia diciptakan dengan tujuan agar ia mencerap kebenaran. Karenanya, ia akan merasa senang dan tenang dalam upaya tersebut. Bahkan dalam persoalan yang remeh sekalipun, seperti permainan catur, manusia merasakan kesenangan. Dan, semakin tinggi materi pengetahuan yang didapat, semakin besar rasa senangnya.
Orang akan senang jika dipercaya menjadi perdana menteri, tetapi ia akan jauh senang jika semakin dekat kepada raja yang mungkin menyingkapkan berbagai rahasia kepadanya.
Seorang astronom yang dengan pengetahuannya bisa memetakan posisi bintang-bintang dan menguraikan lintasan-lintasannya, pasti merasa jauh lebih senang ketimbang pemain catur. Maka tentu saja hati ini akan merasa teramat bahagia saat mengetahui bahwa tak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dari Allah!
Pengetahuan tentang Allah merupakan satu-satunya subjek pengetahuan tertinggi sehingga orang yang berhasil meraihnya pasti akan merasakan puncak kesenangan.
Orang yang tak menginginkan pengetahuan ini tak beda dengan orang yang tak menyukai makanan sehat; atau layaknya orang yang lebih suka lempung ketimbang roti. Ketika kematian datang dan membunuh semua organ tubuh yang biasa diperalat nafsu, semua dorongan dan hasrat badani musnah, tetapi jiwa manusia tidak. Ia akan tetap hidup dan menyimpan segala pengetahuannya tentang Tuhan, malah pengetahuannya semakin bertambah.
Satu bagian penting dari pengetahuan tentang Tuhan timbul dari kajian dan perenungan atas jasad manusia yang menampilkan kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Penciptanya. Dengan kekuasaan-Nya, Dia membangun kerangka tubuh manusia luar biasa ini hanya dari satu tetes air mani. Kerumitan jasad kita dan kemampuan setiap bagiannya untuk bekerja secara harmonis menunjukkan kebijakan-Nya. Cinta-Nya Dia perlihatkan dengan member organ tubuh yang mutlak diperlukan manusia-sepertihati, jantung, dan otak-dan juga organ yang tidak mutlak dibutuhkan-seperti tangan, kaki, lidah, dan mata. Lalu Dia menyempurnakan ciptaan-Nya itu dengan menambahkan rambut yang hitam, bibir yang memerah, dan bulu mata yang melengkung.
Karena itu, sangat pantas jika manusia disebut alam al-shaghƮr (mikrokosmos). Struktur jasadnya mesti dipelajari, bukan hanya oleh orang yang ingin menjadi dokter, melainkan juga oleh orang yang ingin mencapai pengetahuan lebih dalam tentang Tuhan, sebagaimana studi yang mendalam tentang keindahan dan gaya bahasa pada sebuah puisi yang indah akan mengungkapkan lebih banyak kegeniusan penulisnya. Namun, dibandingkan pengetahuan tentang jasad beserta fungsi-fungsinya, pengetahuan tentang jiwa lebih banyak berperan mengantar manusia pada pengetahuan tentang Tuhan. Jasad bisa diumpamakan seekor kuda sementara jiwa adalah penunggangnya.
Jasad diciptakan untuk jiwa dan jiwa untuk jasad. Jika seseorang tidak mengetahui jiwanya sesuatu yang paling dekat kepadanya maka pengakuannya bahwa ia mengetahui hal-hal lain tidak berarti apa-apa. Ia tak ubahnya pengemis yang tak punya persediaan makanan, lalu mengaku bisa memberi makan seluruh penduduk kota.
Dalam bab ini kita telah berusaha memaparkan kebesaran jiwa manusia. Orang yang mengabaikannya dan menodai kesuciannya dengan mengotori atau bahkan merusaknya, pasti akan kalah di dunia dan di akhirat. Kebesaran manusia yang sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk terus maju dan berkembang. Tanpa kemampuan itu ia akan menjadi makhluk yang paling lemah di antara makhluk lainnya takluk oleh rasa lapar, haus, panas, dingin, dan musnah oleh penderitaan.
Sering kali apa yang disukai seseorang justru sangat membahayakan dirinya. Dan segala hal yang memajukannya tidak bisa diperoleh kecuali dengan kesusahan dan kerja keras. Intelektualitas manusia sesungguhnya sangat rapuh. Sedikit saja kekacauan dalam otaknya sudah cukup untuk merusak atau membuatnya gila. Dan fisiknya pun lebih lemah dibanding sebagian hewan; bahkan sengatan tawon saja sudah mampu mengusik ketenangan dan kesehatannya. Tabiatnya bahkan lebih lemah lagi; satu rupiah hilang dari kantongnya, ia kelabakan dan gelisah tak karuan. Kecantikannya pun, berkat kulitnya yang lembut, hanya sedikit lebih baik daripada makhluk lainnya. Jika tidak sering dicuci, manusia akan tampak sangat menjijikkan dan memalukan.
Sebenarnya manusia merupakan makhluk yang teramat lemah dan hina di dunia ini. Kebernialaian dan keutamaannya hanya akan mewujud di negeri akhirat. Melalui pendisiplinan diri dengan sarana "Kimia Kebahagiaan" ia akan naik dari tingkatan hewan ke tingkatan malaikat. Tanpa Kimia Kebahagiaan, keadaannya akan menjadi lebih buruk dari orang biadab yang pasti musnah dan menjadi debu.
Karena itu, disertai kesadaran sebagai makhluk terbaik dan paling unggul, ia harus berusaha mengetahui ketakberdayaannya, karena pengetahuan itu menjadi salah satu kunci untuk membuka pengetahuan tentang Allah.
MENGENAL ALLAH
SeBUaH HADIS Nabi saw. yang terkenal berbunyi "Barang siapa mengenal diriNya, ia mengenal tuhannya"
Artinya, dengan merenungkan wujud dan sifat-sifatnya, manusia sampai pada sebagian pengetahuan tentang Allah. Mengingat banyak orang yang merenungkan dirinya tetapi tak juga menemui Tuhannya, berarti ada cara-cara tersendiri untuk menjalani perenungan itu. Kenyataannya, ada dua metode untuk bisa sampai pada pengetahuan. Salah satunya terlalu musykil sehingga tak bisa dicerna kecerdasan biasa dan, karenanya, lebih baik tidak kita bahas disini.
Metode lain adalah sebagai berikut. Jika seseorang merenungkan dirinya, ia akan mengetahui bahwa sebelumnya ia tidak ada, sebagaimana tertulis dalam Alquran: Tidakkah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bukan apa-apa?(Q. 76: 1) Lalu ia akan mengetahui bahwa ia terbuat dari setetes air yang tak mengandung intelek, pendengaran, kepala, tangan, kaki, dan seterusnya. Jadi jelaslah, setinggi apa pun tingkat kesempurnaannya, ia tidak menciptakan dirinya, bahkan tak kuasa untuk menciptakan meski hanya sehelai rambut. Betapa sangat tak berdayanya manusia ketika ia hanya berupa setetes mani! Jadi, sebagaimana telah dijelaskan, ia mendapati wujudnya sebagai miniatur atau pantulan dari kekuasaan, kebijaksanaan, dan cinta Sang Pencipta. Jika semua orang pintar dari seluruh dunia dikumpulkan dan hidup mereka diperpanjang sampai waktu yang tak terbatas, mereka tak akan bisa memperbaiki sedikit saja dari struktur jasad manusia, yang paling kecil sekalipun.
Keajaiban penciptaan manusia tampak dalam berbagai sisi, seperti kesesuaian antara geligi depan dan samping ketika mengunyah makanan, proporsi lidah di mulut, kelenjar air liur dan kerongkongan untuk menelan, dan berbagai organ lainnya yang begitu menakjubkan.
Lihatlah pula struktur tangan dengan lima jarinya yang tak sama panjang-empat di antaranya punya tiga persendian dan jempol hanya punya dua-sehingga bisa dipergunakan untuk mencekal, menjinjing, atau memukul. Tidak mungkin manusia, secerdas apa pun ia, mampu membuatnya lebih baik lagi, misalnya dengan mengubah jumlah dan struktur jari-jari itu, atau dengan cara lainnya. Lalu, jika ia memikirkan lebih lanjut mengenai hasratnya terhadap beragam makanan, penginapan, dan sebagainya, yang semuanya bisa didapatkan dari gudang penciptaan, ia akan menyadari bahwa kasih sayang Allah sama besarnya dengan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Allah berfirman,
"Rahmat-Ku lebih luas dari kutukan-Ku."
Dan sebuah hadis Nabi saw. menyebutkan bahwa kasih Allah lebih lembut daripada kasih seorang ibu pada bayinya yang sedang menyusu. Jadi, dengan mengenali penciptaan dirinya, manusia akan mengetahui keberadaan Tuhan. Dengan merenungi struktur tubuhnya yang menakjubkan ia menyadari kekuasaan dan Kebahagiaan sejati tak bisa dilepaskan dari makrifat-mengenal Tuhan.
Tiap fakultas dalam diri manusia menyukai segala sesuatu yang untuk itu ia diciptakan. Syahwat senang memenuhi ajakan nafsu, kemarahan menyukai balas dendam, mata menyukai pemandangan indah, dan telinga senang mendengar suara-suara merdu. Jiwa manusiadiciptakan dengan tujuan agar ia mencerap kebenaran. Karenanya, ia akan merasa senang dan tenang dalam upaya tersebut.kebijaksanaan Allah. Dan dengan merenungkan karunia yang berlimpah untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, ia akan menyadari cinta Allah kepadanya. Begitulah, mengenal diri menjadi kunci untuk mengenal Allah. Bukan saja sifat-sifat manusia merupakan pantulan sifat-sifat Tuhan, melainkankeberadaan ruhnya pun dapat mengantarkan manusia pada pemahaman tentang keberadaan Allah. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Allah dan ruh manusia tidak terbatasi ruang dan waktu, gaib, tak terbagi, di luar definisi kualitas dan kuantitas, serta tak dapat dilekati oleh gagasan tentang bentuk, warna, atau ukuran. Manusia kesulitan untuk memersepsi bentuk hakikat-hakikat semacam itu yang berada di luar batasan kualitas, kuantitas, dan sebagainya, sebagaimana ia tak bisa memersepsi bentuk perasaannya sendiri, seperti marah, sakit, senang,atau cinta. Semuanya itu merupakan konsep pikiran yang tak dapat dimengerti oleh indra, sementara kualitas, kuantitas, dan batasan-batasan lainnya merupakan konsep indriawi. Sebagaimana telinga tak bisa mengenali warna atau mata mengenali suara, kita berada di sebuah ruang, tempat persepsi indriawi tak bisa dipergunakan untuk membayangkan kedua hakikat puncak itu, Allah dan ruh. Meski demikian, sebagaimana bisa kita lihat, Allah adalah pengatur jagat dan Dia yang berada di luar batasan ruang dan waktu, kuantitas dan kualitas mengatur segala sesuatu di alam semesta ini begitu sempurna. Seperti itu pulalah ruh mengatur jasad dan seluruh anggotanya sementara ia sendiri tak kasatmata, tak terbagi, dan tak beruang.
Bagaimana mungkin sesuatu yang tak terbagi ditempatkan di suatu ruang yang terbagi. Dari sinilah kita bisa melihat kebenaran hadis Nabi saw.: "Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya." Setelah kita mengetahui sebagian esensi dan sifat-sifat Allah melalui perenungan terhadap esensi dan sifat-sifat ruh, kita akan memahami metode kerja, pengaturan, dan pendelegasian kekuasaan Allah kepada kekuatan-kekuatan malakut sebagainya dengan mengamati bagaimana kita mengatur kerajaan kecil dalam diri kita. Contoh sederhananya, seseorang ingin menulis nama Allah.
Mula-mula keinginan itu terbetik dalam hati, kemudian dibawa ke otak oleh ruh-ruh vital. Bentuk kata "Allah" tergambar dalam relung otak, kemudian berjalan mengikuti jalur saraf dan menggerakkan jari-jari, yang kemudian menggerakkan pena. Begitulah, nama "Allah" tergurat di atas kertas tepat seperti yang tergambar dalam otak penulisnya. Demikian pula, jika Allah menghendaki sesuatu, ia tampil di alam ruhaniah yang dalam Alquran disebut "Singgasana" (Arasy). Dari sana ia mengikuti arus spiritual ke suatu alam yang lebih rendah yang disebut Kursi (al-kursiy), kemudian bentuknya tampil di Lauh Mahfuzh; lalu, melalui perantaraan kekuatan-kekuatan yang disebut "malaikat", bentuk itu mewujud dan tampil di atas bumi dalam bentuk tanaman, pohon, hewan, dan lain-lain sebagai cerminan keinginan dan pikiran Allah, sebagaimana huruf-huruf yang tertulis mencerminkan keinginan yang terbetik dalam hati dan bentuk yang hadir di otak sang penulis.
Tidak seorang pun bisa memahami seorang raja kecuali seorang raja. Karena itu, Allah telah menjadikan tiap-tiap kita sebagai, katakanlah, seorang raja kecil, penguasa atas sebuah kerajaan yang merupakan tiruan dari kerajaan-Nya. Di dalam kerajaan manusia, singgasana Allah dicerminkan oleh ruh, malaikat oleh hati, Kursi oleh otak, dan Lauh Mahfuzh oleh perbendaharaan pikiran. Ruh yang tak tertempatkan dan tak terbagi-mengatur jasad sebagaimana Allah mengatur jagat. Pendeknya, kepada kita diamanatkan sebuah kerajaan kecil, dan kita diwajibkan untuk mengaturnya secara saksama, tidak ceroboh apalagi semena-mena.
Sementara berkenaan dengan pengaturan Allah terhadap alam semesta, pengetahuan manusia terbagi ke dalam beberapa tingkatan. Ada tingkatan fisikawan, yang seperti seekor semut yang merangkak di atas selembar kertas dan mengamati huruf-huruf hitam yang tersebar di atasnya, hanya mengetahui bahwa penyebabnya adalah pena. Ada tingkatan astronom, yang seperti seekor semut dengan pandangan yang lebih luas, bisa melihat jari-jari yang menggerakkan pena. Maksudnya, ia tahu bahwa berbagai elemen semesta dipengaruhi oleh kekuatan bintang-bintang, tetapi ia tidak tahu bahwa bintang-bintang itu berada di bawah kekuasaan malaikat-malaikat.
Jadi, karena perbedaan tingkat persepsi setiap orang, tak heran jika muncul perbedaan paham mengenai Sebab Pertama dari segala akibat. Orang yang tak pernah melihat ke balik dunia-gejala adalah seperti orang yang menganggap budak sebagai raja. Memang hukum alam harus bersifat tetap, karena jika tidak, tak akan ada sains dan sebagainya; tetapi, menganggap budak sebagai majikan adalah kesalahan besar.
Selama kapasitas persepsi manusia berbeda-beda, perdebatan akan terus berlanjut. Keadaan itu bagaikan beberapa orang buta yang mendengar kedatangan seekor gajah di kota mereka dan kemudian pergi menyelidikinya. Pengetahuan hanya mereka dapatkanlewat indra peraba sehingga ketika seorang memegang kaki gajah, orang kedua memegang gadingnya, dan yang lain telinganya, tentu persepsi mereka tentang gajah akan berbeda. Orang pertama menyebut gajah sebagai sebuah tiang, orang kedua menyebutnya tabung yang tebal, dan yang lainnya menganggap gajah sebagai sesuatu yang lembut bak kapas.
Setiap orang menjadikan bagian kecil yang dipersepsinya sebagai keseluruhan. Begitulah, fisikawan dan astronom menyamakan hukum-hukum yang mereka tangkap dengan Tuhan Sang Pembuat berbagai hukum. Kesalahan itu pulalah yang disimpulkan Ibrahim ketika ia berturut-turut berpaling kepada bintang, bulan, dan matahari sebagai objek sembahannya. Ketika menyadari kesalahannya dan mengetahui Dia yang menciptakan segala sesuatu, ia berseru: "Aku tidak menyukai segala sesuatu yang terbenam." (Q. 6:76).
Ada sebuah contoh umum tentang betapa sering manusia salah menyimpulkan sebab kedua sebagai Sebab Pertama, yakni rasa sakit yang diderita manusia. Misalnya jika ada orang yang tak lagi tertarik pada urusan dunia, menjauhi pelbagai bentuk kesenangan, dan tampak tenggelam dalam depresi, dokter akan menyimpulkan: "Ia menderita melankoli dan harus diobati dengan anu dan anu." Fisikawan akan berkata, "Ia menderita kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak akan sembuh hingga udara menjadi lembab kembali." Dan berbeda lag pendapat astrolog yang mengaitkan fenomena itu dengan konjungsi planet dan bintang-bintang. "Sejauh jangkauan kebijaksanaan mereka," kata Alquran.
Sama sekali tak terlintas dalam pikiran mereka bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut:
Yang Mahakuasa berkehendak mengurusi kesejahteraan orang itu, dan kemudian memerintah hamba-hamba-Nya, yakni planet dan elemen-elemen semesta lain, agar menciptakan situasi tertentu dalam diri orang itu sehingga ia berpaling dari dunia ke Penciptanya. Pengetahuan tentang kenyataan ini merupakan mutiara paling berharga dari samudera pengetahuan yang diilhamkan. Dibanding mutiara itu, semua bentuk pengetahuan lain hanya seperti pulau-pulau di tengah lautan.
Memang pendapat ketiganya, yakni dokter, fisikawan, dan astrolog benar dari sisi cabang pengetahuannya masing-masing, tetapi mereka tak bisa melihat bahwa penyakit itu adalah, katakanlah, tali cinta yang digunakan oleh Allah untuk menarik para wali mendekat kepada-Nya. Tentang para wali ini Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi,
"Aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku."
Penyakit itu sendiri adalah salah satu di antara bentuk-bentuk pengalaman yang menjadi sarana bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Allah, sebagaimana Dia berfirma melalui lisan Nabi saw.: "Penyakit-penyakit itu sendiri adalah hamba-hamba-Ku, dan semuanya bergantung pada keputusanKu."
Penjelasan di atas memungkinkan kita memahami lebih dalam makna seruan yang sering diucapkan orang beriman, seperti "subhânallâh", "alhamdulillâh", "lâ ilâha illâ allâh", dan "allâhu akbar." Seruan terakhir, yang berarti Allah Mahabesar tidak berarti bahwa Allah lebih besar dari ciptaan, karena ciptaan adalah pengejawantahan-Nya, sebagaimana cahaya adalah pengejawantahan matahari. Tidak benar jika dikatakan bahwa matahari lebih besar dari cahayanya. Seruan itu berarti bahwa kebesaran Allah tak dapat diukur dan berada di luar kemampuan kognisi manusia dan bahwa kita hanya bisa membentuk suatu gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna tentang kebesaran-Nya.
Jika seorang anak meminta kita menjelaskan nikmatnya kekuasaan dan memerintah, kita bisa katakan bahwa hal itu tidak berbeda dengan kesenangannya bermain bola dengan pemukulnya meski pada hakikatnya keduanya tidak sama kecuali bahwa keduanya termasuk dalam kategori "senang". Jadi, seruan "allâhu akbar" berarti bahwa kebesaran Nya jauh di luar batas kemampuan pemahaman kita. Lagi pula, pengetahuan tentang Allah yang tak sempurna seperti itu sebagaimana yang bisa kita peroleh-bukan sekadar pengetahuan spekulatif, tetapi mesti disertai dengan penyerahan diri dan ibadah. Jika seseorang mati, ia hanya akan berurusan dengan Allah. Dan jika kita harus hidup bersama seseorang, kebahagiaan kita bergantung sepenuhnya pada seberapa besar kita mencintainya.
Cinta adalah benih kebahagiaan, dan cinta kepada Allah dapat ditumbuhkan dan dikembangkan oleh ibadah. Ibadah dan zikir tak berkesudahan mencerminkan suatu tingkat keprihatinan dan pengekangan nafsu badani. Ini tidak berarti ia harus memusnahkan nafsu badani sepenuhnya, karena jika begitu, ras manusia akan musnah. Namun, pemuasan hasrat tubuh itu harus dibatasi dengan ketat. Dan, karena manusia bukan hakim yang terbaik untuk menghukum dirinya sendiri, ia harus mengonsultasikan penetapan batasan-batasan itu kepada pembimbing ruhani, yakni para nabi. Hukum yang mereka tetapkan berdasarkan wahyu Tuhan menetapkan batasan-batasan yang mesti ditaati manusia. Orang yang melanggarnya berarti "telah menganiaya dirinya sendiri", sebagaimana dikatakan dalam Alquran. Meski pernyataan Alquran in teramat jelas, masih banyak orang yang, karena kebodohannya akan Allah, melanggar batas-batas tersebut.
Ada beberapa penyebab kebodohan ini:
Pertama, ada orang yang gagal menemukan Allah lewat pengamatan, lantas menyimpulkan bahwa Allah tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri atau ada dari keabadian. Mereka bagaikan orang yang melihat tulisan indah kemudian menyatakan bahwa tulisan itu ada dengan sendirinya tanpa ditulis siapa pun, atau memang sudah ada begitu saja. Mereka yang berpola pikir seperti ini telah jauh tersesat sehingga penjelasan dan perdebatan dengan mereka takkan bermanfaat sedikit pun. Mereka mirip dengan fisikawan dan astronom yang kita sebut diatas.
Kedua, sejumlah orang yang, karena tidak mengetahui sifat jiwa yang sebenarnya, menolak adanya akhirat, tempat manusia akan dimintai pertanggungjawabannya dan diberi balasan baik atau disiksa. Mereka anggap diri mereka sendiri tidak lebih baik dari hewan atau sayuran, yang akan musnah begitu saja dan tidak akan dibangkitkan lagi.
Ketiga, ada orang yang percaya kepada Allah dan kehidupan akhirat, tetapi kepercayaannya itu lemah. Mereka berkata, "Allah itu Mahabesar dan tidak bergantung pada kita; tak penting bagi-Nya apakah kita beribadah atau tidak." Pikiran mereka itu seperti orang sakit yang, saat dokter memberinya nasihat penyembuhan, berkata, "Yah, kuikuti atau tidak, apa urusannya dengan dokter itu." Memang tindakannya itu tidak berdampak apa-apa pada diri si dokter, tetapi pasti akan merusak dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit jasad yang tak terobati akan membunuh jasad, penyakit jiwa yang tak tersembuhkan pun akan menyebabkan penderitaan di masa mendatang.
Allah berfirman, "Orang yang akan diselamatkan hanyalah yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."
Keempat, kelompok orang kafir yang berkata, "Syariat mengajari kita untuk menahan amarah, syahwat, dan kemunafikan. Ini perintah yang musykil dilaksanakan, karena manusia diciptakan dengan sifat-sifat seperti itu. Itu sama saja dengan menuntut yang hitam agar menjadi putih." Orang bodoh seperti mereka sepenuhnya tidak melihat kenyataan bahwa syariat tidak mengajari kita untuk memusnahkan nafsu-nafsu ini, tetapi untuk meletakkan mereka dalam batas-batasnya. Sehingga, dengan menghindari dosa-dosa besar, kita bisa mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita yang lebih kecil.
Bahkan, Nabi saw. bersabda, "Aku manusia sepertimu juga, dan aku marah seperti yang lain. Dan dalam Alquran tertulis: "Allah mencintai orang yang menahan amarahnya" (Q. 3: 134),
bukan orang yang tidak punya amarah sama sekali.
Kelima, kelompok orang yang menonjol-nonjolkan kemurahan Allah seraya mengabaikan keadilan-Nya, kemudian berkata,
"Ya, apa pun yang kita kerjakan, Allah Maha Pemaaf."
Mereka tidak berpikir bahwa meskipun Allah maha mengampuni, jutaan manusia hancur secara menyedihkan karena kelaparan dan penyakit. Sebenarnya mereka tahu bahwa siapa saja yang ingin umur panjang, kemakmuran, atau kepintaran tak boleh sekadar berkata, "Tuhan Maha Pemaaf," tetapi mesti berusaha dengan keras. Meski Alquran mengatakan: "Rezeki semua makhluk hidup datang dari Allah," di sana tertulis pula: "Manusia tidak
mendapatkan sesuatu kecuali dengan berusaha"(Q. 53: 39).
Kenyataannya, ajaran semacam itu berasal dari setan, dan orang seperti itu hanya berbicara dengan bibirnya, tidak dengan hatinya.
Keenam, kelompok orang yang mengaku telah mencapai suatu tingkat kesucian tertentu sehingga mereka tak lagi dipengaruhi dosa. Namun kenyataannya, saat orang lain memperlakukan salah seorang di antara mereka secara tidak hormat, ia akan men-
Orang yang tak menginginkan pengetahuan ini tak beda dengan orang yang tak menyukai makanan sehat; atau layaknya orang yang lebih suka lempung ketimbang roti. Ketika kematian datang dan membunuh semua organ tubuh yang biasa diperalat nafsu, semua dorongan dan hasrat badani musnah, tetapi jiwa manusia tidak. Ia akan tetap hidup dan menyimpan segala pengetahuannya tentang Tuhan, malah pengetahuannya semakin bertambah dendam selama bertahun-tahun.
Dan jika salah seorang di antara mereka tidak mendapat sebutir makanan yang menurutnya telah menjadi haknya, seluruh dunia akan tampak gelap dan sempit baginya. Bahkan, jika ada di antara mereka benar-benar bisa menaklukkan nafsunya, mereka tak punya hak untuk membuat pengakuan semacam itu, mengingat para nabi, manusia paling mulia pun selalu meratap mengakui dosa-dosa mereka. Sebagian kelompok ini bahkan begitu sombong sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari hal-hal yang halal.
Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa suatu hari seseorang menyodorkan sebutir kurma kepadanya, tetapi beliau enggan memakannya lantaran tidak yakin kurma itu diperoleh secara halal. Sementara orang-orang yang berkehidupan bebas ini mau meneguk berliter-liter arak lalu mengaku (aku bergidik saat menulis ini) lebih unggul dari Nabi yang selalu menjaga kesuciannya bahkan dari sebutir kurma, sementara mereka merasa tak terpengaruh oleh arak sebanyak itu. Patutlahjika setan membenamkan mereka ke dalam kehancuran. Orang suci sejati mengetahui bahwa orang yang tidak bisa menguasai nafsunya tidak pantas disebut manusia. Dan bahwa seorang muslim sejati pastilah dengan senang hati mengakui batas-batas yang ditetapkan syariat.
Orang yang berupaya dengan dalih apa pun untuk mengabaikan kewajibannya berarti bisa dipastikan berada dalam pengaruh setan. Bagi mereka, nasihat lisan maupun tulisan takkan lagi mempan; mereka harus diancam dengan pedang. Para mistikus palsu seperti mereka kadang-kadang berpura-pura tenggelam dalam samudra ketakjuban. Tetapi, jika kautanyakan kepada mereka apa yang mereka takjubkan, mereka tidak mengetahuinya. Biarkanlah mereka takjub sekehendak hati mereka, namun pada saat yang sama ingatkanlah bahwa Yang Mahakuasa adalah pencipta mereka, dan bahwa mereka adalah hamba-Nya.
MENGENAL DUNIA
DUNIA INI adalah sebuah panggung atau pasar yang disinggahi para musafir dalam perjalanan mereka ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai perbekalan. Dengan bantuan perangkat indriawinya, manusia harus memperoleh pengetahuan tentang ciptaan Allah dan, melalui perenungan terhadap semua ciptaan-Nya itu, ia akan mengenal Allah.
Pandangan manusia mengenai Tuhannya akan menentukan nasibnya di masa depan. Untuk memperoleh pengetahuan inilah ruh manusia diturunkan ke dunia tanah dan air. Selama indranya masih berfungsi, ia akan menetap di alam ini. Jika semuanya telah sirna dan yang tertinggal hanya sifat-sifat esensinya, berarti Ia telah pergi ke "alam lain".
Selama hidup di dunia ini, manusia harus menjalankan dua hal penting, yaitu melindungi dan memelihara jiwanya, serta merawat dan mengembangkan jasadnya. Jiwa akan terpelihara dengan pengetahuan dan cinta kepada Allah. Sebaliknya, jiwa akan hancur jika seseorang terserap dalam kecintaan kepada sesuatu selain Allah. Sementara itu, jasad hanyalah hewantunggangan bagi jiwa, yang kelak akan musnah. Setelah kehancuran jasad, jiwa akan abadi. Kendati demikian, jiwa harus merawat jasad layaknya seorang pedagang yang selalu merawat unta tunggangannya. Tetapi jika ia menghabiskan waktunya untuk memberi makan dan menghiasi untanya, tentu rombongan kafilah akan meninggalkannya dan ia akan mati sendirian di padang pasir.
Untuk bertahan dan berkembang, jasad hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Tetapi nafsu jasmani yang tertanam dalam dirinya untuk memenuhi kebutuhan itu cenderung memberontak melawan nalar yang tumbuhnya lebih lambat ketimbang nafsu. Karenanya, nafsu jasmani harus dikendalikan dengan hukum-hukum Tuhan yang diajarkan oleh para nabi. Lalu, berkenaan dengan dunia yang kita tempati ini, ia terbagi ke dalam tiga kelompok utama, yaitu hewan, tumbuhan, dan mineral. Produk ketiganya terus-menerus dibutuhkan manusia, yang kemudian memunculkan tiga bidang profesi utama, yaitu para pembuat pakaian, tukang bangunan, dan pekerja tambang. Tentu saja ketiga bidang kerja utama itu menurunkan profesi-profesi lain yang lebih khusus, seperti penjahit, tukang batu, tukang besi, dan lain-lain. Semua pekerja dalam berbagai bidang itu saling terkait satu sama lain. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari yang lain. Keadaan ini melahirkan sistem hubungan perdagangan yang pada gilirannya sering kali memunculkan kebencian, iri hati, cemburu, dan penyakit jiwa lainnya.
Ujung-ujungnya, timbul pertengkaran dan perselisihan, yang memunculkan kebutuhan terhadap kekuasaan politik dan sipil serta pengetahuan tentang hukum. Begitulah, berbagai bidang profesi, perdagangan, jasa, dan lain-lain bermunculan di dunia ini yang semakin memperumit keadaan dan menimbulkan kekacauan sosial.
Apa pasal? Karena manusia lupa bahwa kebutuhan mereka sebenarnya hanya tiga, yaitu pakaian, makanan, dan tempat tinggal, yang semuanya semata-mata dibutuhkan agar jasad dapat menjadi tunggangan yang layak bagi jiwa dalam perjalanannya ke alam berikutnya. Mereka terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti peziarah ke Mekah yang, karena melupakan tujuan ziarah, menghabiskan seluruh waktunya untuk memberi makan dan menghiasi hewan tunggangannya.
Seseorang pasti akan terpikat dan disibukkan oleh dunia, yang menurut Rasulullah daya pikatnya lebih kuat daripada sihir Harut dan Marut-kecuali jika ia mengawasi dan mengendalikan nafsunya dengan ketat. Dunia cenderung menipu dan memperdaya manusia, yang mewujud dalam beragam rupa. Misalnya, dunia berpura-pura seakan-akan ia akan selalu tinggal bersamamu, padahal kenyataannya, secara perlahan ia bakal pergi menjauhimu dan berpisah darimu, layaknya suatu bayangan yang tampaknya tetap, tetapi kenyataannya selalu bergerak.
Atau, dunia menampilkan dirinya dalam rupa penyihir yang berseri-seri tetapi tak bermoral, ia berpura-pura mencintai dan menyayangimu, namun kemudian membelot kepada musuhmu, meninggalkanmu mati merana dilanda rasa kecewa dan putus asa. Nabi Isa a.s. melihat dunia dalam bentuk seorang wanita tua yang buruk rupa.
Ketika Isa as. bertanya kepadanya tentang berapa banyak suaminya, ia menjawab bahwa jumlahnya tak terhitung. Ia bertanya lagi, apakah mereka telah mati atau kah dicerai. Si wanita itu bilang bahwa ia telah memenggal mereka semua. "Aku heran," ujar Isa a.s. kepada wanita tua itu, "betapa banyak orang bodoh yang masih menginginkanmu setelah apa yang kau lakukan atas banyak orang.' Wanita tua ini menghiasi dirinya dengan busana yang indah sarat permata, menutupi mukanya dengan cadar, lalu merayu manusia. Sangat banyak dari mereka yang mengikutinya menuju kehancuran.
Rasulullah saw menyatakan bahwa di Hari Pengadilan, dunia ini akan tampak dalam bentuk seorang nenek tua yang seram, bermata hijau gelap, dan gigi yang bertonjolan. Orang yang melihatnya akan berkata, "Ampun! Siapakah ini?" Malaikat menjawab, "Inilah dunia yang deminya kalian bertengkar dan berkelahi serta saling merusak kehidupan."
Kemudian wanita itu akan dicampakkan ke neraka seraya menjerit keras, "Oh Tuhan, di mana pencinta-pencintaku dahulu?"
Tuhan pun kemudian memerintahkan para pecinta dunia juga dilemparkan mengikuti kekasih mereka itu.
Siapa saja yang mau merenungkan secara serius keabadian di masa lalu, ketika dunia ini belum ada, dan keabadian di masa datang, ketika dunia tak lagi ada, akan mengetahui bahwa kehidupan ini bagaikan sebuah perjalanan yang tahapan-tahapannya dicerminkan oleh tahun, liga-liganya (ukuranjarak, + 3 mil) oleh bulan, mil-milnya oleh hari, dan langkah-langkahnya oleh detik. Jadi, betapa bodoh orang yang berupaya menjadikan dunia sebagai tempat tinggalnya yang abadi dan menyusun rencana sepuluh tahun ke depan untuk meraih apa-apa yang bisa jadi tak pernah dibutuhkannya, padahal sepuluh hari ke depan mungkin ia telah terkubur dalam tanah.Saat kematian datang, orang yang mengumbar nafsu tanpa batas dan tenggelam dalam kenikmatan dunia tak ubahnya seperti orang yang memenuhi perutnya dengan panganan lezat, kemudian memuntahkannya. Kelezatannya telah hilang, tetapi mualnya tetap terasa.
Makin banyak harta yang dinikmati berupa taman-taman yang indah, budak, emas, perak, dan lain-lain-semakin berat penderitaan yang dirasakan ketika mereka dipisahkan oleh kematian. Beratnya penderitaan itu melebihi derita kematian, karena jiwa yang telah dilekati sifat tamak akan menderita di akhirat akibat nafsu yang tak terpuaskan.
Dunia menipu manusia dengan cara-cara lainnya, seperti menampakkan diri sebagai sesuatu yang remeh dan sepele, tetapi setelah dikejar ternyata ia punya cabang yang begitu banyak dan panjang sehingga seluruh waktu dan energi manusia dihabiskan untuk mengejarnya.
Nabi Isa a.s. berkata, "Pecinta dunia ini seperti orang yang minum air laut;
semakin banyak minum, semakin haus ia sampai akhirnya mati akibat dahaga yang tak terpuaskan."
Dan Rasulullah saw. bersabda, "Kau tak bisa bergelut dengan dunia tanpa terkotori olehnya, sebagaimana kau tak bisa menyelam tanpa menjadi basah."
Dunia ini seperti sebuah meja yang terhampar bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti. Di sana disediakan piring-piring emas dan perak, makanan dan wewangian yang berlimpah. Tamu yang bijaksana makan sesuai kebutuhannya, menghirup wewangian, berterima kasih kepada tuan rumah, lalu pergi. Sebaliknya, tamu yang tolol mencoba membawa beberapa piring emas dan perak hanya untuk direnggut kembali dari tangannya sehingga ia akhirnya dicampakkan dalam keadaan hina dan malu.
Gambaran tentang sifat dunia yang penuh tipu daya ini akan kita tutup dengan sebuah tamsil pendek berikut ini. Katakanlah ada sebuah kapal yang hendak berlabuh di sebuah pula berhutan lebat. Kapten kapal berkata kepada para penumpang bahwa ia akan berlabuh selama beberapa jam, dan mereka boleh berjalan-jalan di pantai, tetapi jangan terlalu lama. Akhirnya, para penumpang turun dan berjalan ke berbagai arah.
Kelompok penumpang yang bijaksana akan segera kembali setelah berjalan-jalan sebentar dan mendapati kapal itu kosong sehingga mereka dapat memilih tempat yang paling nyaman. Ada pula para penumpang yang berjalan-jalan lebih lama di pulau itu, mengagumi dedaunan, pepohonan, dan mendengarkan nyanyian burung. Saat kembali ke kapal, ternyata tempat yang paling nyaman telah terisi sehingga mereka terpaksa diam di tempat yang kurang nyaman.
Kelompok penumpang lainnya berjalan-jalan lebih jauh dan lebih lama; mereka menemukan bebatuan berwarna yang sangat indah, lalu membawanya ke kapal. Namun, mereka terpaksa mendekam di bagian paling bawah kapal itu. Batu-batu yang mereka bawa, yang kini keindahannya telah sirna, justru semakin membuat mereka merasa tidak nyaman. Kelompok penumpang lain berjalan begitu jauh sehingga suara kapten, yang menyeru mereka untuk kembali, tak lagi terdengar. Akhirnya, kapal itu terpaksa berlayar tanpa mereka. Mereka terlunta-lunta di pulau itu tapa harapan dan akhirnya mati kelaparan, atau menjadi mangsa binatang buas.Jasad bisa diumpamakan seekor kuda sementara jiwa adalah penunggangnya. Jasad diciptakan untuk jiwa dan jiwa untuk jasad. Jika seseorang tidak mengetahui jiwanya, sesuatu yang paling dekat kepadanya, maka pengakuannya bahwa ia mengetahui hal-hal lain tidak berarti apa-apa. Ia tak ubahnya pengemis yang tak punya persediaan makanan, lalu mengaku bisa memberi makan seluruh penduduk kota.Kelompok pertama adalah orang beriman yang sepenuhnya menjauhkan diri dari dunia, dan kelompok terakhir adalah orang kafir yang hanya mengurusi dunia dan sama sekali tidak memedulikan kehidupan akhirat. Dua kelompok lainnya adalah orang beriman, tetapi masih disibukkan oleh dunia yang sesungguhnya tidak berharga.
Meskipun kita telah banyak bicara tentang bahaya dunia, mesti diingat bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tak layak di cela, seperti ilmu dan amal baik. Ilmu dan amal baik yang dibawa seseorang ke akhirat akan memengaruhi nasib dan keadaannya di sana.
Terlebih lagi amal yang dibawa adalah amal ibadah yang membuat selalu mengingat dan mencintai Allah. Semua itu, sebagaimana ungkapan Alquran, termasuk "segala yang baik akan abadi".
Juga ada beberapa hal baik lainnya didunia ini, seperti perkawinan, makanan, pakaian, dan lain-lain, yang dipergunakan secara bijak oleh kaum beriman sebagai sarana untuk mencapai dunia yang akan datang. Selain semua hal tersebut, terutama yang memikat pikiran dan memaksa manusia untuk bersetia kepadanya dan mengabaikan akhirat, sungguh merupakan kejahatan yang layak dikutuk,
sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Dunia ini terkutuk dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya juga terkutuk,kecuali zikir kepada Allah dan segala sesuatu yang mendukungnya."
MENGENAL AKHIRAT
ORANG YANG memercayai Alquran dan Sunah sudah tidak asing lagi dengan konsep nikmat surga dan siksa neraka yang menanti di akhirat. Namun, ada hal penting yang seringmereka lupakan, yakni bahwa ada surga ruhani dan neraka ruhani.
Mengenai surga ruhani, Allah berfirman kepada Nabi-Nya,
"Tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati manusia, itulah nikmat yang disiapkan bagi orang yang bertakwa." Hat orang yang tercerahkan memiliki satu jendela yang terbuka ke arah dunia ruhani sehingga ia dapat mengetahui bukan dari kabar angin atau kepercayaan tradisional, melainkan teralami secara nyata.
penyebab segala kerusakan dan kebahagiaan jiwa, sejelas dan senyata pengetahuan seorang dokter mengenai segala penyebab rasa sakit atau pendukung kesehatan. Ia tahu bahwa pengetahuan tentang Allah dan ibadah kepada-Nya menjadi obat bagi jiwa, sementara kebodohan dan dosa menjadi racun yang merusaknya. Banyak orang, bahkan juga yang disebut ulama, karena bertaklid buta terhadap pendapat orang lain, tak punya keyakinan yang benar berkenaan dengan kebahagiaan atau penderitaan jiwa di akhirat. Tetapi orang yang mau mempelajari masalah ini dengan pikiran yang bersih dari prasangka akan sampai pada keyakinan yang jelas mengenai masalah ini.
Kematian akan mengakibatkan keadaan yang berbeda pada dua jenis jiwa yang dimiliki manusia, yaitu jiwa hewani dan jiwa ruhani. Jiwa ruhani bersifat malakut. Jiwa hewani bertempat dalam hati, yang dari sana menyebar laksana uap ke semua anggota tubuh, memberi tenaga atau kemampuan melihat pada mata, mendengar pada telinga, dan ke seluruh anggota tubuh lainnya sehingga mereka dapat menjalankan fungsinya.
Ini bisa dibandingkan dengan sebuah lampu di sebuah pondok yang cahayanya menyebar ke dinding-dinding. Hati adalah sumbu lampu ini, dan jika aliran minyaknya terputus karena suatu sebab, lampu itu akan mati. Seperti itulah jiwa hewani mengalami kematiannya.
Berbeda halnya dengan jiwa ruhani atau jiwa manusiawi. Jiwa ruhani tak terbagi dan dengan jiwa itulah manusia dapat mengenali Allah. Boleh dikatakan, ia adalah pengendara jiwa hewani. Dan ketika jiwa hewani musnah, ia tetap ada.
Keadaannya serupa dengan penunggang kuda yang telah turun atau pemburu yang tak lagi bersenjata. Kuda dan senjata itu adalah anugerah bagi jiwa manusia agar ia bisa mengejar dan menangkap keabadian cinta dan pengetahuan tentang Allah. Jika berhasil, ia pasti akan merasa lega dan bahagia meski senjata atau tunggangannya meninggalkannya; ia tidak akan berkeluh kesah.
Karena itu, Rasulullah saw. bersabda, "Kematian adalah hadiah Tuhan yang diharap-harapkan kaum beriman."
Tetapi ia akan celaka dan menderita jika kuda atau senjata itu telah hilang sedang ia belum berhasil meraih tujuannya. Kesedihan dan penyesalannya sangat tak terperi.
Pembahasan yang lebih dalam akan menunjukkan betapa berbedanya jiwa manusia dari jasad dan segenap anggotanya. Setiap anggota tubuh bisa rusak dan berhenti bekerja, tetapi kemandirian jiwa tak terusik. Selain itu, tubuh manusia mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Tubuhnyadi waktu bayi jauh berbeda dengan tubuhnya di masa tua. Namun, kepribadian manusia tetap sama, dulu maupun sekarang.
Jadi, bisa dikatakan bahwa jiwa akan terus ada menyertai sifat-sifat esensialnya yang tak bergantung pada tubuh, seperti pengetahuan dan cinta kepada Allah. Inilah makna ayatAlquran, "segala yang baik akan abadi." Layaknya pengetahuan, kebodohan pun akan abadi menyertai jiwa. Jadi, jika kau lebih memilih kebodohan ketimbang pengetahuan tentang Allah maka kebodohan itu akan menyertaimu di akhirat dalam wujud kegelapan jiwa dan penderitaan. Keadaan itulah yang dimaksudkan Alquran:"Orang yang buta di dunia ini akan buta di akhirat dan tersesat dari jalan yang lurus."
Mengapa jiwa manusia cenderung untuk kembali ke dunia yang lebih tinggi? Sebab, ia berasal dari sana dan pada dasarnya ia bersifat malakut. Ia dikirim ke dunia yang lebih rendah ini berlawanan dengan kehendaknya untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman,
sebagaimana firman Allah dalam Alquran, "Turunlah dari sini kamu semuanya, akan datang kepadamu perintah-perintah dari-Ku dan siapa yang menaatinya tidak perlu takut dan tak perlu gelisah."
Dan ayat Alquran: "'Aku tiupkan ke dalam diri manusia ruh Ku" juga menunjukkan asal samawi jiwa manusia. Jiwa hewani akan tetap sihat selama keseimbangan bagian-bagian yang menyusunnya terjaga. Jika keseimbangan itu terusik, ia obat-obatan dapat memulihkannya.
Sama halnya, jiwa ruhani akan tetap sehat selama keseimbangan moralnya terjaga dengan menjalankan tuntunan etika dan ajaran moral.
Lalu, bagaimanakah keadaan jiwa manusia setelah kematian jasad? Sebagaimana telah disebutkan, jiwa manusia tak bergantung pada jasad. Pandangan sebagian orang yang menentang keberadaan jiwa setelah kematian didasarkan atas dugaan bahwa jiwa harus dibangkitkan setelah jasadnya menyatu dengan tanah. Sebagian ahli kalam berpendapat bahwa jiwa manusia musnah setelah mati, kemudian dibangkitkan kembali.
Pendapat ini bertentangan baik dengan nalar maupun Alquran. Sebagaimana telah kita bahas, kematian jasad sama sekali tidak memengaruhi apalagi menghancurkan jiwa,
sebagaimana dikatakan Alquran, "Jangan kamu pikir orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Tidak! Mereka hidup, bahagia dengan kehadiran Tuhan mereka dan dalam limpahan karunia."
Tak ada sedikit pun rujukan syariat yang menyebutkan bahwa ruh orang yang telah mati, yang baik maupun jahat, akan musnah.
Malah, diriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bertanya kepada ruh orang-orang kafir yang terbunuh mengenai kebenaran hukuman yang diancamkan kepada mereka. Ketika para sahabat menanyakan apa gunanya bertanya kepada mereka, Rasulullah menjawab, "Mereka bisa mendengar kata-kataku lebih baik daripada kalian."
Diriwayatkan bahwa sufi melihat surga dan neraka ketika mereka mencapai keadaan ekstase. Ketika kembali sadar, wajah mereka menunjukkan apa yang telah mereka saksikan; sarat dengan tanda-tanda bahagia dan ketakutan yang sangat. Tetapi, visi atau penglihatan ke dunia gaib tak lagi dibutuhkan bagi orang-orang yang berpikir. Bagi orang yang selalu menyibukkan dirinya memuaskan nafsu duniawi, saat kematian menghentikan seluruh perangkat indriawinya dan ketika segalanya musnah kecuali kepribadiannya, ia akan menderita karena harus berpisah dengan segala bentuk keduniaan yang begitu dekat dengannya selama ini, seperti istri, anak,
kekayaan, tanah, budak, dan sebagainya. Sebaliknya, orang yang telah menghindari keduniaan dan meneguhkan cintanya kepada Allah, niscaya akan menyambut kematian sebagai pelepasan dari kercuhan hidup duniawi untuk bergabung dengan Dia yang dicintainya.
Benarlah Rasulullah saw. ketika mengatakan, "Kematin adalah jembatan yang menyatukan sahabat dengan sahabat."
Dan dalam hadis yang lain beliau bersabda, "Dunia ini surga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang mukmin."
Di lain pihak, semua derita yang ditanggung jiwa setelah mati sesungguhnya disebabkan oleh cinta dunia yang berlebihan.
Rasulullah bersabda bahwa setelah mati, semua orang kafir akan disiksa oleh 99 ular, yang masing-masing punya sembilan kepala.
Orang yang berpikiran dangkal memaknai hadis itu secara harfiah; ia menggali kuburan orang kafir dan mencari ular yang di maksud namun tak juga ditemukan.
Mereka sama sekali tidak memahami bahwa "ular-ular" itu selalu bersemayam dalam jiwa orang kafir, bahkan sudah menetap di sana saat mereka mash hidup. Ular-ular itu menyimbolkan sifat-sifat jahat, seperti dengki, benci, munafik, sombong, licik, dan lain-lain. Semua sifat itu bersumber, langsung maupun tidak, dari cinta dunia.
Itulah neraka yang disediakan bagi orang yang, menurut Alquran, "meneguhkan hati mereka pada dunia ini melebihi akhirat".
Jika ular-ular itu adalah ular biasa, mereka mungkin bisa melarikan diri dari siksanya meski hanya untuk sesaat. Tetapi ular-ular itu merupakan penjelmaan dari sifat bawaan mereka sehingga bagaimana bisa mereka melarikan diri darinya?
Ambillah contoh seseorang yang menjual budak perempuannya tanpa menyadari perasaannya hingga budak itu telah lepas dari jangkauannya. Lalu, rasa cinta kepada budak itu yang selama ini tertidur dalam hatinya, tiba-tiba bangkit dengan intensitas yang luar biasa sehingga ia tersiksa dan menderita bagai disengat bisa ular. Ia menjadi gila karenanya; ia rela mencampakkan dirinya kedalam kobaran api atau menceburkan diri ke sungai untuk melarikan diri impitan perasaan itu. Seperti itulah akibat cinta dunia yang berlebihan.
Para pecinta dunia tidak menyadarinya hingga dunia yang mereka cintai itu direnggut dari mereka dan akhirnya, karena merasa sangat tersiksa, mereka lebih Cinta adalah benih kebahagiaan, dan cinta kepada Allah dapat ditumbuhkan dan dikembangkan oleh ibadah.
Ibadah dan zikir tak berkesudahan mencerminkan suatu tingkat keprihatinan dan pengekangan nafsu badani. Ini tidak berarti ia harus memusnahkan nafsu badani sepenuhnya, karena jika begitu, ras manusia akan musnah.
Namun, pemuasan hasrat tubuh itu harus dibatasi dengan ketat, memilih hidup sengsara ditemani ular dan kalajengking.Dengan demikian, setiap pendosa akan disiksa di akhirat dengan alat penyiksaan yang mereka bawa sendiri dari dunia.
Benarlah kata Alquran, "Sesungguhnya kalian akan melihat neraka. Kalian akan melihatnya dengan mata keyakinan ('ayn al-yaqƮn)", dan "neraka mengitari orang kafir."
Alquran tidak mengatakan "neraka akan mengitari mereka", karena bahkan di dunia pun neraka sudah mengitari mereka.
Mungkin ada yang keberatan dan menyatakan, "Kalau begitu, berarti tidak adaorang yang terbebas dari neraka, karena siapa pun, sedikit atau banyak, pasti terikat pada dunia dengan beragam kepentingan dan kecenderungan?" Untuk menjawabnya bisa kita katakan bahwa ada orang-orang, terutama para fakir, yang telah sepenuhnya melepaskan diri dari cinta dunia. Bahkan, di antara orang-orang yang memiliki dan mencintai dunia, termasuk istri, anak, rumah, dan lain-lain-ada yang cintanya kepada Allah jauh lebih besar daripada cintanya kepada yang lain.
Mereka layaknya seseorang yang, meski sudah punya rumah yang ia cintai di sebuah kota, ketika raja memintanya untuk mengisi pos jabatan di kota lain, ia akan memenuhinya dengan senang hati, karena jabatan itu lebih berharga baginya daripada rumahnya. Termasuk dalam kategori ini adalah para nabi dan sebagian wali.
Di lain pihak, ada pula orang yang mencintai Allah, tetapi cintanya kepada dunia jauh lebih besar sehingga mereka harus menderita siksaan yang cukup berat setelah kematian sebelum mereka dibebaskan darinya. Banyak orang yang mengaku mencintai Allah, tetapi kecintaannya sama sekali tak teruji.Untuk menguji rasa cintamu, perhatikanlah ke mana kau akan condong ketika perintah-perintah Allah datang bertolak belakang dengan hasrat keduniawianmu?
Orang yang mengaku cinta kepada Allah namun tetap membangkang kepada-Nya, berarti pengakuannya itu dusta belaka. Telah kita jelaskan di atas bahwa salah satu bentuk neraka ruhani adalah terpisahnya seseorang secara paksa dari dunia yang sangat dicintainya. Banyak orang yang tanpa sadar membawa dalam dirinya benih-benih neraka. Mereka akan mengalami nasib yang teramat naas, layaknya seorang raja yang setelah menjalani hidup mewah, tiba-tiba dicampakkan dari singgasananya dan menjadicemohan orang-orang. Neraka ruhani jenis kedua adalah rasa malu, yaitu ketika seseorang dibangunkan untuk melihat hasil perbuatannya di dunia. Orang yang suka mengumpat di dunia akanmendapati dirinya dalam bentuk seorang kanibal yang makan bangkai saudaranya. Orang yang iri hati akan tampak sebagai seseorang yang melemparkan batu-batu ke dining, kemudian batu-batu itu memantul kembali dan mengenai mata anaknya sendiri.
Neraka jenis ini, yaitu rasa malu, bisa dijelaskan dengan perumpamaan ringkas berikut ini. Seorang putra raja baru saja menikah. Di malam harinya, ia pergi keluar bersama beberapa sahabatnya dan kembali lagi ke istana dalam keadaan mabuk. Ia masuki sebuah kamar yang terang lalu berbaring disamping tubuh yang diduganya sebagai mempelai wanitanya. Pagi harinya, saat kesadarannya pulih, ia terperanjat mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar mayat penyembah api. Sofanya adalah pembaringan jenazah, dan tubuh yang diduganya mempelai wanitanya adalah mayat wanita tua yang mulai membusuk. Betapa malu ia ketika keluar kamar dan mendapati ayahnya, sang raja, mendekatinya dengan serombongan tentara.
Itulah perumpamaan tentang rasa malu yang akan dirasakan di akhirat oleh orang-orang serakah yang memasrahkan diri mereka kepada segala sesuatu yang mereka anggap sumber kebahagiaan.
Neraka ruhani jenis ketiga adalah kekecewaan dan kegagalan mencapai objek eksistensi yang sejati. Manusia diciptakan dengan tujuan untuk memantulkan cahaya pengetahuan tentang Tuhan. Namun, jika ia tiba di akhirat dengan jiwa yang tertutup karat tebal nafsu duniawi, ia akan gagal mencapai tujuan penciptaannya. Kekecewaannya bisa digambarkan dengan perumpamaan berikut.
Misalkan seseorang melewati hutan gelap bersama beberapa sahabat. Mereka melihat di sana-sini bertebaran batu berwarna yang kerlap-kerlip memantulkan cahaya. Para sahabatnya mengumpulkan dan membawa batu-batu itu dan mengajaknya untuk melakukan hal yang sama. "Karena," kata mere-mka, "kami dengar batu-batu itu akan dibayar dengan harga tinggi di tempat yang akan kita datangi." Tetapi orang ini malah menertawakan mereka dan menyebut mereka bodoh karena menyimpan harapan sia-sia untuk memperoleh sesuatu, sementara ia sendiri bisa berjalan bebas tak berbebani. Kemudian mereka tiba di tempat yang dituju dan ternyata batu-batu itu adalah batu delima, zamrud, dan permata yang tak ternilai harganya. Betapa kecewa dan menyesal orang itu karena tidak mengumpulkan benda-benda yang sudah berada dalam jangkauannya itu. Seperti itulah penyesalan orang yang saat hidup di dunia ini tidak berusaha mendapatkan permata kebajikan dan perbendaharaan agama. Perjalanan manusia di dunia ini bisa dibagi ke dalam empat tahap, yaitu tahap indriawi, eksperimental, instingtif, dan rasional.
Pada tahapan pertama ia seperti seekor ngengat yang, meski bisa melihat, tak bisa mengingat sehingga ia akan menubrukkan dirinya berkali-kali pada lilin yang sama.
Pada tahapan kedua ia seperti seekor anjing yang, setelah sekali dipukul, akan lari saat melihat sebatang rotan pemukul.
Pada tahapan ketiga ia seperti seekor kuda atau domba yang, secara instingtif, segera kabur saat melihat macan atau srigala, musuh alaminya, sementara mereka tak akan lari saat melihat unta atau kerbau, meski ukuran keduanya lebih besar.
Pada tahapan keempat ia telah melampaui batas-batas kebinatangan itu sehingga mampu, hingga batas tertentu, meramalkan dan mempersiapkan masa depannya.
Pada tahapan pertama gerakannya seperti orang yang berjalan di atas tanah, lalu seperti orang yang menyeberangi lautan di atas sebuah kapal, dan pada tahapan terakhir, ketika ia sudah akrab dengan hakikat-hakikat, ia seperti orang yang mampu berjalan di atas air. Dan, masih ada tahapan kelima yang hanya dikenal oleh para nabi dan wali. Gerakan mereka seperti orang yang terbang mengarungi udara.
Jadi, manusia bisa mengada pada berbagai tahapan yang berbeda, mulai tahapan hewani sampai tahapan malaikat. Dan persis di sinilah bahaya besar mengancam, yaitukemungkinan jatuh ke tahapan yang paling rendah.
Alquran menyatakan, "Telah Kami tawarkan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung; mereka menolak menanggungnya. Tetapi manusia mau menanggungnya. Sungguh manusia itu bodoh."
Hewan maupun malaikat tak bisa mengubah tingkatan dan posisi kemakhlukannya. Tetapi manusia bisa jatuh ke tingkatan hewan yang paling rendah atau naik meraih tingkatan malaikat tertinggi. Inilah mana "penanggungan amanah" yang disebutkan dalam ayat di atas. Kebanyakan manusia memilih menetap di dua tahapan yang paling rendah. Dan biasanya mereka selalu memusuhi orang-orang yang bepergian atau musafir yang jumlahnya jauh lebih sedikit.
Banyak manusia dari kedua kelompok itu, karena tak punya keyakinan yang teguh tentang akhirat, menolaknya sama sekali saat nafsu indriawi menguasainya. Menurut mereka, neraka hanyalah temuan para teolog untuk menakut-nakuti manusia. Mereka menghina dan merendahkan para teolog. Berdebat dengan orang seperti ini tak banyak berguna. Meski demikian, mungkin pertanyaan ini bisa membungkam keangkuhan. Selama hidup di dunia ini, manusia harus menjalankan dua hal penting, yaitu melindungi dan memelihara jiwanya, serta merawat dan mengembangkan jasadnya.
Jiwa akan terpelihara dengan pengetahuan dan cinta kepada Allah. Sebaliknya, jiwa akan hancur jika seseorang terserap dalam kecintaan kepada sesuatu selain Allah.nya sehingga ia mau merenung sejenak: "Apakah kau benar-benar yakin bahwa 124.000 nabi dan wali yang memercayai kehidupan akhirat itu semuanya salah, dan hanya kau yang benar?" Jika ia menjawab, "Ya, aku yakin," berarti tak ada lagi yang dapat diharapkan darinya. Hati dan pikiran merekasudah membatu. Mereka sama sekali tak memercayai adanya hari akhir dengan pahala dan siksa yang disediakan bagi jiwa-jiwa manusia. Jika seperti itu keadaannya, tinggalkan dan biarkanlah mereka dalam kesesatan,
sebagaimana dikatakan Alquran, "Meski kau peringatkan, mereka takkan ingat."
Tetapi jika ia menjawab bahwa kehidupan akhirat itu mungkin ada mungkin tidak ada, dan bahwa ajaran itu sarat misteri dan keraguan sehingga ia tak dapat memutuskan benar atau tidaknya maka katakanlah kepadanya, "'Tuntaskan keraguanmu itu!" Sampaikan beberapa perumpamaan berikut.
Umpamanya kau hendak makan, lalu seseorang berkata bahwa seekor ular telah meludahkan bisa ke makanan itu, mungkin kau akan menahan diri dan memilih untuk menahan lapar daripada memakannya, meski orang yang mengabarkan informasi itu mungkin hanya bercanda atau berbohong.
Atau misalnya kau sedang sakit dan seorang penyair berkata, "Beri aku satu dirham dan akan kutulis sebuah puisi untuk kau ikatkan di lehermu agar kau sembuh dari sakit." Mungkin kau akan memberinya uang dengan harapan jimatnya bisa menyembuhkan penyakitmu. Atau jika seorang peramal berkata, "Jika bulan telah sampai pada suatu bentuk tertentu, minumlah obat ini dan itu, niscaya kamu akan sembuh." Meski kau tak begitu percaya astrologi, mungkin kau akan mencobanya seraya berharap ramalannya itu benar. Lalu, tidak pernahkah kau berpikir bahwa mungkin saja ucapan para nabi, para wali, dan orang-orang suci, yang meyakinkan manusia mengenai adanya kehidupan mendatang, mengandung kebenaran seperti jimat Si penyair atau ramalan si peramal? Banyak manusia yang berani menanggung risiko menyeberangi samudera demi mengharap suatu keuntungan. Apakah kau bersikap kukuh tidak mau menanggung sedikit penderitaan di masa sekarang demi kebahagiaan abadi di akhirat?
Sayyidina Ali Zainal Abidin (Putra Husain ibn Ali ibn Abi Thalib, cucu Rasulullah saw.) ketika berdebat dengan seorang kafir pernah berkata, "]jika kau benar maka tidak seorang pun di antara kita yang akan menanggung penderitaan di masa depan. Tetapi jika kami yang benar maka kami akan selamat sementara kau pasti menderita." Ia mengatakan itu bukan karena meragukan akhirat, melainkan untuk memberikan kesan tertentu kepada orang kafir itu.
Berdasarkan semua pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa urusan utama manusia di dunia ini adalah mempersiapkan diri bagi dunia yang akan datang. Bahkan seandainya seseorang meragukan keberadaan akhirat, nalar mengajarkan bahwa ia harus bertindak seakan-akan akhirat itu ada dengan mempertimbangkan akibat luar biasa yang mungkin terjadi. Keselamatan hanya bagi orang-orang yang mengikuti ajaran Allah.
SPIRITUALIS DALAM MUZIK DAN TARIAN
ALLAH YANG Mahakuasa menciptakan hati manusia bagaikan sebuah batu api. Ia menyimpan api yang akan berpijar-pijar musik dan harmoni, yang mampu memberikan ketenteraman kepadanya dan orang lain. Harmoni yang dinikmati manusia merupakan gema dari keindahan dunia yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengingatkan bahwa manusia terhubung dengan dunia itu, dan membangkitkan emosi yang sedemikian dalam dan asing dalam dirinya sehingga ia sendiri tak kuasa menjelaskannya.
Musik dan tarian sangat dalam memengaruhi keadaan hati manusia; ia menyalakan cinta yang tertidur dalam hati-cinta yang bersifat duniawi dan indriawi, maupun yang ilahi dan ruhani.
Para teolog bersilang pendapat mengenai kebolehan musik dan tarian dalam aktivitas keagamaan. Mazhab Zahiriah berpendapat bahwa Allah sama sekali tak dapat dipersepsi manusia. Mereka menolak kemungkinan manusia bisa benar-benar merasakan cinta kepada Allah. Bagi mereka, manusia hanya bisa mencintai makhluk. Cinta yang diyakini sebagian manusia sebagai cinta kepada Sang Khalik hanyalah proyeksi dari rasa cintanya kepada makhluk atau sekadar bayang-bayang yang tercipta oleh khayalannya.
Musik dan tarian, menurut mereka, hanya berurusan dengan cinta kepada makhluk dan, karenanya, haram dipergunakan dalam kegiatan keagamaan. Jika kita tanya mereka, apa arti " cinta kepada Allah" yang diperintahkan syariat, mereka menjawab bahwa hal itu berarti ketaatan dan ibadah.
Kekeliruan pandangan mereka akan kita jelaskan pada bab tentang cinta kepada Allah. Untuk saat ini cukuplah jika kita katakan bahwa musik dan tarian tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam hati, tetapi ia hanya membangunkan emosi yang tertidur.
Karena itu, jika yang dibangkitkan adalah cinta kepada Allah yang sangat dianjurkan syariat, musik dan tarian boleh dipergunakan, bahkan dianjurkan. Sebaliknya, jika yang memenuhi hatinya adalah nafsu duniawi, musik dan tarian hanya akan memperburuk keadaannya sehingga keduanya terlarang.
Hukum keduanya menjadi mubah jika dimaksudkan semata untuk hiburan. Kenyataaan bahwa musik dan tarian menenteramkan hati tidak lantas membuatnya haram, sebagaimana mendengarkan nyanyian burung, atau melihat rumput hijau dan air yang mengalir. Bahkan kita mendapati sebuah hadis sahih dari Aisyah r.a. mengenai kebolehan musik dan tarian yang dipergunakan semata-mata sebagai hiburan:
Pada suatu hari raya, beberapa Arab negro menari di masjid. Nabi berkata kepadaku, "Apakah kau ingin melihatnya?" Akujawab, "Ya." Lantas aku diangkatnya dengan tangannya sendiri yang dirahmati, dan aku menikmati pertunjukan itu sedemikian lama sehingga lebih dari sekali beliau berkata, "Belum cukup?"
Hadis lain dari Siti Aisyah adalah sebagai berikut:
Pada suatu hari raya, dua orang gadis datang ke rumahku dan mulai bernyanyi dan menari. Nabi masuk dan berbaring di sofa sambil memalingkan mukanya. Tiba-tiba Abu Bakar masuk, dan melihat gadis-gadis itu bermain, berseru: "Bah! Seruling setan dirumah Nabi!" Mendengar perkataannya, Nabi menoleh dan berkata: "Abu Bakar, biarkan mereka, ini hari raya."
Memang banyak terjadi musik dan tarian membangkitkan nafsu setan dalam dirian manusia. Namun, kita juga mendapati musik dan tarian yang justru membangkitkan kebaikan, misalnya nyanyian jemaah haji memuji keagungan Baitullah di Mekah sehingga banyak orang yang terdorong untuk pergi haji; atau musik dan nyanyian yang membangkitkan semangat perang para pejuang untuk memerangi kaum kafir; atau musik pilu yang membangkitkan kesedihan orang yang telah berbuat dosa sehingga ia menyadari kesalahannya; atau musik yang dimainkan di walimah arusy, khitanan, atau untuk menyambut kedatangan seseorang dari perjalanan jauh. Semua jenis musik dan tarian seperti itu halal dan dibolehkan.
Nabiyullah Daud pun bernyanyi dan memainkan alat musik untuk memuji dan mengagungkan Allah. Nyanyian yang termasuk diharamkan adalah nyanyian di pekuburan yang hanya menambah kesedihan setelah peristiwa kematian.
Allah berfirman, "Jangan bersedih atas apa yang hilang darimu."
Kini, mari kita bahasa musik dan tarian yang dipergunakan dalam aktivitas keagamaan. Para sufi memanfaatkan musik untuk membangkitkan cinta yang lebih besar kepada Allah dalam diri mereka. Berkat bantuan musik mereka sering mendapatkan visi dan gairah ruhani. Dalam keadaan seperti ini hati mereka menjadi sebersih perak yang dibakar dalam tungku, dan mencapai suatu tingkat kesucian yang tak akan pernah bisa dicapai melalui laku prihatin. Mereka semakin menyadari keterkaitan mereka dengan dunia ruhani sehingga perhatian pada dunia secara bertahap sirna, bahkan kadang-kadang kesadaran indriawi mereka hilang.
Meski demikian, para calon sufi dilarang ikut ambil bagian dalam tarian mistik ini tanpa bantuan pir (syekh atau guru)nya.
Diriwayatkan bahwa Syekh Abu Qasim al-Jurjani, ketika seorang muridnya minta izin untuk ambil bagian dalam tarian semacam itu, berkata, "Jalani puasa yang ketat selama tiga hari, kemudian suruh orang lain memasak makanan yang menggiurkan. Jika setelah itu kau mash lebih menyukai tarian itu, kau boleh ikut."
Bagaimanapun, seorang murid yang hatinya belum sepenuhnya tersucikan dari nafsu duniawi, meski pernah mendapat penglihatan ruhani, mesti dilarang oleh syekhnya untuk ambil bagian dalam tarian mistik semacam itu karena hanya akan mendatangkan mudarat ketimbang maslahat.
Orang yang menolak hakikat ekstase (kegairahan) dan pengalaman spiritual para sufi sebenarnya menunjukkan kesempitan pikiran dan kedangkalan wawasan mereka.Namun, maafkanlah mereka. Memercayai sesuatu yang belum pernah dialami sendiri sama sulitnya dengan seorang buta memercayai keindahan taman, rumput hijau, atau air yang mengalir, atau seorang anak untuk memahami nikmatnya kekuasaan. Seorang bijak, meski ia sendiri tak pernah mengalami keadaan spiritual seperti itu, tak akan menyangkal hakikatnya. Sebab, kesalahan apa lagi yang lebih besar daripada orang yang menyangkal hakikat sesuatu hanya karena ia sendiri belum mengalaminya!
Alquran mengecam orang-orang seperti ini: "Orang yang tak mendapatkan petunjuk akan berkata, 'Ini adalah kemunafikan yang nyata."
Kemudian, ada sebagian orang yang menentang puisi-puisi cinta yang dilantunkan para sufi dalam halaqah mereka. Ketahuilah, para sufi yang sangat mencintai Allah melantunkan puisi tentang pemisahan dari atau persekutuan dengan yang dicintai dimaksudkan untuk menjelaskan cinta mereka kepada-Nya. Ungkapan puitis "lorong-lorong gelap" digunakan untuk menjelaskan gelapnya kekafiran; "pancaran wajah" untuk cahaya keimanan dan mabuknya sang sufi dalam kecintaan kepada-Nya. Sebagai contoh, perhatikanlah bait syair berikut:
"Kau bisa takar beribu cangkir arak Namun, hingga kau reguk tandas tiada kenikmatan kaurasa"
Maksudnya, kenikmatan sejati dalam beragama takkan bisa dirasakan hanya melalui pelaksanaan perintah, tetapi harus disertai ketertarikan dan hasrat hati. Orang boleh saja banyak berbicara dan menulis tentang cinta, iman, takwa, dan sebagainya, tetapi sebelum ia sendiri memiliki sifat-sifatini, semuanya itu tak bermanfaat baginya. Jadi, orang yang mencari-cari kesalahan para sufi, karena melihat mereka begitu terpengaruh bahkan mencapai ekstase oleh bait-bait seperti itu hanyalah orang yang berpikiran dangkal dan tak toleran. Bahkan seekor unta pun kadang-kadang terpengaruh oleh dendang lagu Arab yang dinyanyikan penunggangnya sehingga ia berlari lebih kencang dan mampu memikul beban berat hingga tersungkur kelelahan.
Tetapi berhati-hatilah jangan sampai keliru menerapkan syair yang dilantunkan para sufi kepada Allah. Jika kau salah, kau layak dikecam. Misalnya, saat mendengar ungkapan puitis mereka seperti "Kau berubah dari kecenderungan asalmu", kau tak boleh menerapkannya untuk Allah yang mustahil berubah. Ungkapan seperti itu hanya cocok untuk dirimu, yang sering kali berubah tekad dan kecenderungan.
Allah bagaikan mentari yang selalu bersinar, tetapi kadang-kadang cahaya-Nya terhalang oleh berbagai hal yang ada antara kita dan Dia.
Diriwayatkan bahwa beberapa sufi mencapai tingkatan ekstase sedemikian rupa sehingga mereka hilang dalam Allah. Itulah yang terjadi pada Syekh Abu Hasan al-Nuri yang tersungkur ekstatik saat mendengar syair tertentu. Ia berlari cepat menerobos ladang tebu yang baru dipanen hingga kakinya berdarah penuh luka dan tak lama setelah itu ajal menjemputnya. Dalam kasus seperti itu, sebagian orang bilang bahwa Tuhan telah benar-benar turun ke dalam manusia.
Sungguh pendapat yang keliru! Jika kau berpendapat seperti itu, kau tak ubahnya orang yang mengaku menyatu dengan cermin saat ia melihat bayangan dirinya di cermin, atau orang yang mengatakan bahwa warna merah atau putih yang dipantulkan cermin adalah sifat asali cermin itu.
Ada beragam keadaan ekstatik yang dialami para sufi sesuai dengan emosi yang mendominasi mereka, seperti cinta, takut, nafsu, tobat, dan sebagainya. Keadaan spiritual seperti itu sering kali dicapai tidak hanya melalui lantunan ayat-ayat Alquran, tetapi juga melalui lantunan syair-syair romantis. Sebagian orang keberatan terhadap pembacaan syair pada kesempatan-kesempatan seperti itu. Hanya Alquran yang layak dibacakan dalam aktivitas keagamaan.
Tetapi mesti diingat bahwa tidak seluruh ayat Alquran dimaksudkan untuk membangkitkan emosi, misalnya, perintah bahwa seorang laki-laki mesti mewariskan seperenam hartanya untuk ibunya dan seperduanya untuk saudara perempuannya, atau perintah bahwa seorang janda mesti menunggu empat bulan sebelum menikah lagi dengan orang lain. Sangat sedikit orang, dan mesti orang yang sangat peka, yang dapat tenggelam ekstatik mendengar lantunan ayat-ayat seperti itu.
Alasan lain yang membenarkan pembacaan syair, selain ayat-ayat Alquran, dalam kesempatan-kesempatan ini adalah bahwa orang-orang telah begitu akrab dengan Alquran, bahkan banyak orang yang hafal sehingga akibat terlalu sering diulang.
Dunia ini seperti sebuah meja yang terhampar bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti. Di sana disediakan piring-piring emas dan perak, makanan dan wewangian yang berlimpah. Tamu yang bijaksana makan sesuai kebutuhannya, menghirup wewangian, berterima kasih kepada tuan rumah, lalu pergi.ulang, pengaruhnya semakin lemah. Untuk membangkitkan emosi, seseorang tak mesti selalu mengutip ayat-ayat Alquran. Diriwayatkan bahwa suatu ketika beberapa orang Arab Badui begitu terpesona sewaktu pertama kali mendengar pembacaan Alquran. Melihat keadaan mereka, Abu Bakar berkata, "Dulu kami pun seperti kalian, tetapi kini hati kami telah tumbuh begitu kuat." Ungkapan itu menunjukkan bahwa pengaruh ayat-ayat Alquran terhadap orang yang telah akrab dengannya tidak sekuat yang dirasakan orang yang baru mendengarnya. Dengan alasan yang sama, Khalifah Umar biasa memerintah jemaah haji agar segera meninggalkan Makkah setelah menunaikan semua manasik haji. "Karena," ujarnya, "aku khawatir, jika kalian terlalu akrab dengan Kota Suci itu, ketakjuban terhadapnya akan sirna dari hati kalian."
Ada pula sebagian orang yang secara sembrono mempergunakan nyanyian atau memainkan alat musik-seperti seruling atau gendang untuk mengiringi pembacaan Alquran. Banyak orang yang menganggap perilaku itu tidak pantas. Memang, keagungan Alquran tidak layak disandingkan dengan permainan.
Diriwayatkan bahwa sekali waktu Nabi saw. memasuki rumah Rabiah binti Mu'adz. Beberapa orang gadis-penyanyi, dengan maksud menghormati kedatangan Nabi, tiba-tiba bernyanyi riuh. Beliau segera meminta mereka berhenti, karena puji-pujian bagi Nabi adalah tema yang terlalu sakral untuk dimainkan seperti itu. Termasuk dalam kategori ini orang yang mempermainkan ayat-ayat Alquran sehingga dalam pikiran orang yang mendengarnya muncul penafsiran semau mereka. Di pihak lain, kita bisa bebas menafsirkan bait-bait syair yang kita dengar, arena makna yang diserap seseorang atas suatu syair tak harus sama dengan mana yang dimaksudkan penulisnya.
Ada fenomena lain dalam tarian mistik yang mungkin di mata sebagian orang tampak sebagai perilaku menyimpang, yakni sebagian sufi yang menari histeris sehingga ia melukai diri sendiri dan mengoyak-koyak pakaiannya. Jika perilaku itu murni sebagai hasil dari keadaan ekstase, tak ada alasan untuk menentangnya. Namun jika laku ini muncul dari seorang yang sok ahli, ia layak dikecam karena hal itu hanyalah gambarankemunafikan.
Dalam berbagai hal, orang yang disebut ahli adalah yang mampu mengendalikan diri hingga ia merasa wajib untuk menyalurkan segenap perasaannya.
Di-riwayatkan bahwa seorang murid Syekh Junaid, ketika mendengar sebuah nyanyian dalam sebuah halaqah sufi, tak bisa menahan diri sehingga mulai memekik ekstatik. Junaid berkata kepadanya, "Sekali lagi kau bertingkah seperti itu, kau harus pergi dari hadapanku." Setelah kejadian itu, si murid berusaha menahan diri hingga suatu ketika emosinya begitu kuat terbangkitkan. Dorongan itu menekannya dengan sangat keras sehingga tanpa sadar ia memekik keras dan kemudian mati.
Kesimpulannya, setiap orang yang menghadiri halaqah sufistik seperti itu harus memperhatikan tempat dan waktu. Orang yang berniat busuk tak patut hadir di sana. Setiap hadirin mesti duduk berdiam diri, tidak saling melihat, menundukkan kepala seperti dalam salat dan memusatkan pikiran hanya kepada Allah. Setiap orang mesti mewaspadai segala sesuatu yang mungkin terlintas dalam hatinya, dan tidak melakukan sedikit pun gerakan yang bersumber dari rangsangan diri sadar.
Tetapi jika ada seseorang di antara mereka yang bangkit dalam keadaan ekstase murni, segenap orang yang hadir mesti bangkit bersamanya, dan jika ada sorban seseorang yang jatuh, orang lain pun mesti meletakkan sorbannya. Meski ini merupakan fenomena baru dalam Islam yang tidak ada contohnya dari para sahabat, mesti kita ingat bahwa yangdiharamkan hanyalah segala sesuatu yang secara langsung bertentangan dengan syariat.
Sebagai contoh salat Tarawih. Kita sama-sama mengetahui bahwa salat ini dilembagakan pertama kali oleh Khalifah Umar.
Nabi saw. bersabda, "Hiduplah dengan setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya."
Karena itu, kita boleh mengerjakan hal-hal tertentu untuk menyenangkan seseorang, karena sikap tidak bersahabat akan menyakitkan hati mereka. Memang benar bahwa para sahabat tidak terbiasa berdiri saat Nabi saw. memasuki ruangan karena mereka tak menyukai kebiasaan ini; tetapi di daerah-daerah tertentu yang punya kebiasaan seperti ini, kita mesti mengikuti kebiasaan mereka karena sikap yang tidak bersahabat hanya akan menimbulkan kebencian.
Setiap bangsa punya kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Budaya Arab tentu berbeda dengan budaya Persia. Hanya Allah yang mengetahui mana yang paling baik.
MUHASABAH DAN ZIKIR
KETAHUILAH, ALLAH telah berfirman dalam Alquran,
"Akan Kami pasang satu timbangan yang adil di Hari Perhitungan dan tak akan ada jiwa yang dianiaya dalam segalahal."
Siapa saja yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapati balasannya. Takkan ada sedikit pun yang diluputkan timbangan itu.
Dalam ayat yang berbeda, Allah berfirman,
"Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada Hari Perhitungan."
Khalifah Umar diriwayatkan pernah berkata,
"Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab."
Dan Tuhan berfirman, "Wahai kaum mukminin, bersabar dan berjuanglah melawan nafsumu, dan kemudian istikamahlah."
Para wali memahami bahwa mereka datang ke dunia ini untuk menjalani perjuangan batin yang hasilnya akan menentukan nasib akhir mereka: surga atau neraka. Karena itu, mereka selalu mewaspadai tubuh mereka yang kerap kali mengkhianati jiwa agar mereka tak menderita kerugian besar. Seorang yang bijak pasti akan melakukan muhasabah setiap pagi setelah salat subuh dan berkata kepada jiwanya, "Wahai jiwaku, tujuan hidupmu hanya satu. Meski sedetik, saat yang telah lewat takkan bisa dikembalikan karena dalam perbendaharaan Allah bagian napasmu sudah ditentukan, tak bisa ditambah atau dikurangi. Saat kehidupan telah berakhir, tak ada lagi laku batin yang dapat kau jalani.
Karena itu, apa yang bisa kau kerjakan, kerjakanlah sekarang. Perlakukan hari ini layaknya hidupmu telah habis dan hari yang akan kau jalani hanyalah bonus yang dianugerahkan Allah Yang Maha Rahim. Sungguh salah besar jika kau menyia-nyiakan hari yang kau hidupi!"
Di Hari Perhitungan setiap orang akan melihat seluruh episode hidupnya berderet rapi di lemari perbendaharaan amal. Ketika pintu pertama terbuka dan cahaya terang memancar darinya, berarti episode kehidupan itu dihabiskan dalam kebaikan. Hatinya akan dipenuhi kegembiraan sedemikian besar, yang sedikit saja darinya akan membuat penghuni neraka melupakan panasnya api. Pintu kedua terbuka; yang tampak hanya kegelapan dan pancaran bau yang teramat busuk, yang memaksa setiap orang menutup hidung. Itu berarti a menghabiskan episode itu dalam kemaksiatan. Ia akan merasakan ketakutan yang teramat besar, yang sedikit saja darinya mampu membuat penghuni surga gelisah dan memohon rahmat.
Pintu lemari ketiga terbuka; di dalamnya tampak kosong, tak ada cahaya tak pula kegelapan. Ini mencerminkan saat-saat yang tidak dipakai untuk kebaikan maupun keburukan. Ia akan merasa sangat menyesal dan kebingungan laksana orang yang punya banyak harta namun menyia-nyiakan atau membiarkannya lepas begitu saja.
Begitulah, seluruh episode kehidupan manusia akan ditampilkan satu demi satu di hadapannya. Karenanya, setiap orang mesti berkata kepada jiwanya disetiap pagi,
"Allah telah memberimu bonus hidup dua puluh empat jam. Berhati-hatilah agar kau tidak kehilangan sedetik pun darinya, karena kau tidak akan mampu menanggung besarnya penyesalan saat kerugian bear menimpamu.'
Para wali berkata, "Bahkan, seandainya Allah mengampunimu setelah kau menyiakan kehidupan, kau tidak pernah bisa mencapai tingkatan para saleh dan kelak kau pasti akan menyesali kerugianmu. Karena itu, awasilah dengan ketat lisanmu, matamu, dan seluruh anggota tubuhmu, karena semua itu mungkin menjadi pendorongmu ke neraka. Ucapkanlah pada jasadmu, 'Jika kau memberontak, pasti aku akan menghukummu.' Meski cenderung keras kepala, jasad akan menerima perintah dan dapat dijinakkan dengan laku zuhud."
Itulah tujuan muhasabah. Nabi saw. pernah bersabda, "Kebahagiaan hanya bagi orang yang melakukan sesuatu yang akan memberinya keuntungan di akhirat." Kini kita akan membahas permasalah zikir kepada Allah. Orang yang berzikir adalah yang selalu ingat bahwa Allah mengamati seluruh tindakan dan pikirannya. Manusia hanya mampu melihat yang terindra, sementara Allah melihat yang terindra dan yang tersembunyi. Karenanya, orang yang memercayai pengawasan Allah atas dirinya pasti bisa melatih jasad dan batinnya sekaligus. Orang yang menyangkalnya adalah orang kafir; sedangkan orang yang memercayainya namun tindakannya bertentangan dengan kepercayaannya itu adalah orang yang sangat angkuh dan sombong. Suatu hari seorang Arab negro datang kepada Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melakukan banyakdosa. Mungkinkah tobatku diterima?" "Ya," jawab Nabi saw.
"Wahai Rasulullah, setiap kali aku melakukan dosa, apakah Tuhan benar-benar melihatnya ?" "Ya." Tiba-tiba orang itu memekik keras lalu terjatuh pingsan. Orang yang telah merasa yakin sepenuhnya bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya, pasti ia akan selalu menapaki jalan kebenaran.
Dikisahkan bahwa ada seorang murid yang sangat dikasihi syekhnya hingga murid-murid lain iri kepadanya. Suatu hari Syekh memberi masing-masing muridnya seekor unggas dan menyuruh mereka membunuhnya tanpa ada seorang pun yang melihat mereka. Lalu, pergilah mereka mencari tempat yang paling sunyi untuk membunuh unggas itu. Semua murid segera kembali membawa unggas yang telah disembelih, kecuali si murid terkasih. Ia kembali dengan unggas yang mash hidup seraya berkata, "Saya tak menemukan tempat untuk membunuhnya, karena di mana-mana Allah selalu melihat."
Syekh berkata kepada murid-muridnya, "Kini kalian tahu maqam anak muda ini. Ia telah mencapai maqam selalu ingat Allah. "
Ketika Zulaikha menggoda Yusuf, ia menutupkan kain ke wajah berhala yang biasa disembahnya. Yusuf berkata kepadanya, "Wahai Zulaikha, angkau malu di hadapan sebongkah batu. Bagaimana mungkin aku tak merasa malu di hadapan Dia yang menciptakan tujuh langit dan bumi."
Suatu ketika seseorang mengunjungi Junaid al-Baghdadi dan berkata, "Aku tak bisa menahan pandangan mata saya dari melihat hal-hal yang menggairahkan. Apa yang mesti saya perbuat?" Jawab Junaid, "Dengan mengingat bahwa Allah melihatmu jauh lebih jelas daripada kamu melihat orang lain."
Di dalam hadits qudsi tertulis bahwa Allah berfirman, "surga itu bagi orang-orang yang sempat berkeinginan untuk mengerjakan dosa tapi kemudian ingat bahwa mataKu ada di atas mereka dan kemudian mereka menahan diri,"
"Abdullah bin Dinar meriwayatkan, bahwa suatu kali ia berjalan bersama Khalifah Umar di dekat Makkah ketika bertemu seorang anak laki-laki penggembala sedang menggembalakan kawanan domba. Umar berkata kepadanya, "Juallah seekor domba padaku." Anak laki-laki itu menjawab, "Domba-domba ini bukan milikku, tapi milik tuanku." Kemudian untuk mengujinya, Umar berkata, "Engkau kan bisa berkata kepadanya bahwa seekor srigala telah menyambar salah satu di antaranya, dan dia tidak akan tahu apa-apa mengenai hal itu?" "Tidak, memang dia tak akan tahu," kata anak itu, "tapi Allah akan mengetahuinya." Umar pun menangis dan "mendatangi majikan anak laki-laki itu untuk membelinya dan kemudian membebaskannya sambil berkata, "Ucapanmu itu telah membuatmu bebas di dunia ini akan akan membuatmu bebas pula di akhirat."
Ada dua tingkatan zikir kepada Allah:
tingkatan pertama adalah zikir para wali yang seluruh pikirannya terserap dalam ingatan dan perenungan kepada Allah. Tak ada sedikit pun ruang dalam hati mereka untukselain Dia. Ini tingkatan zikir yang lebih rendah, karena ketika hati manusia sudah mantap dan anggota tubuhnya telah terkendalikan oleh hatinya sehingga mereka bahkanmenjauhkan diri dari laku yang dibolehkan maka ia sama sekali tak membutuhkan sarana maupun pelindung dari dosa. Tingkatan inilah yang dimaksudkan oleh sabda Nabi saw., "Orang yang bangun di pagi hari dan hanya Allah dalam pikirannya maka Allah akan menjaganya di dunia maupundiakhirat."
Sebagian pelaku zikir ini begitu larut dalam ingatan kepada-Nya sehingga mereka tidak mendengar orang yang berbicara kepada mereka, tidak melihat orang yang berjalan di depan mereka; tubuh mereka linglung seakan telah menabrak dining. Seorang wali Muhasabah dan Zikir menuturkan bahwa suatu hari ia melewati tempat para pemanah sedang berlomba. Agak jauh dari situ, tampak seseorang duduk sendirian. "Aku mendekatinya dan mencoba mengajaknya berbicara, tetapi ia menjawab, "Mengingat Allah lebih baik daripada ngobrol.'Aku berkata, "Tidakkah kau kesepian?" "Tidak,' jawabnya, 'Allah dan dua malaikat bersamaku.'
Sembari menunjuk kepada para pemanah aku bertanya lagi, 'Mana di antara mereka yang menjadi pemenang?'
'Orang yang telah ditakdirkan Allah untuk menang,' jawabnya. Kemudian aku bertanya, 'Dari manakah jalan ini berasal?' Terhadap pertanyaan ini ia memandang lurus ke langit, kemudian bangkit seraya berkata, 'Tuhanku, begitu banyak mahluk Mu yang menghalang-halangi orang untuk mengingat-Mu.' Syekh al-Syibli suatu hari mengunjungi al-Tsauri. Tiba di sana ia mendapati al-Tsauri sedang duduk tafakur sedemikian khusyuk sehingga tak satu helai rambut pun bergerak. Al-Syibli bertanya, "Siapa yang mengjarim tafakur sedemikian khusyuk?" Al-Tsauri menjawab, "Seekor kucing yang aku lihat menunggu di depan lubang tikus. Dibanding keadaanku sekarang, ia bahkan jauh lebih tenang."
Ibn Hanif berkata, "Aku mendengar tentang seorang Syekh dan muridnya di kota Tsaur yang selalu duduk dan larut dalam zikir. Lalu aku pergi ke sana dan mendapati keduanya sedang duduk tenang menghadap kiblat. Aku mengucapkan salam tiga kali, tetapi mereka tak menjawab. Aku berkata, 'Demi Allah, jawablah salamku.' Si murid mengangkat kepalanya dan berkata, Wahai Ibn Hanif, waktu di dunia ini teramat singkat. Dan dari waktu yang singkat itu hanya sedikit yang masih tersisa. Kau telah merintangi kami dengan tuntutanmu agar kami membalas salammu.' Lalu ia kembali menundukkan kepalanya dan melanjutkan zikirnya. Saat itu aku merasa sangat lapar. Tetapi rasa ingin tahu tentang kedua orang itu mengalahkan rasa laparku. Kemudain aku salat Asar dan Maghrib bersama mereka, dan meminta mereka menasihatiku. Sekali lagi si murid berujar, 'Wahai Ibn Hanif, kami ini orang miskin, bahkan kami tak punya lidah untuk memberikan nasihat.' Aku bersikukuh menyertai mereka selama tiga hari tiga malam. Tak sepatah kata pun terlontar di antara kami dan tak seorang pun tertidur. Aku berkata dalam hati, 'Demi Allah, aku akan memaksa mereka memberiku nasihat.' Si murid membaca pikiranku, mengangkat kepalanya, dan berkata, 'Pergi dan carilah orang yang dengan mengunjunginya kau akan mengingat Allah dan rasa takut kepada-Nya tertanam dalam hatimu, dan yang akan memberimu nasihat dengan diamnya, bukan lisannya.' Itulah tingkatan zikir para wali, yang seluruh dirinya terserap dalam perenungan kepada Allah.
Tingkatan kedua adalah zikir "golongan kanan" (ashhabul yamƮn). Mereka sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka dan merasa malu di hadapan-Nya. Meski demikian, mereka tetap sadar dan tidak larut dalam pikiran tentang keagungan Nya. Keadaan mereka seperti orang yangtiba-tiba terkejut mendapati dirinya dalam keadaan telanjang dan terburu-buru menutupi tubuhnya. Sementara kelompok tingkatan pertama seperti orang yang tiba-tiba mendapati dirinya di hadapan seorang raja sehingga ia kaget dan bingung. Kelompok tingkatan kedua selalu mewaspadai segala yang terlintas dalam pikiran mereka, karena kelak di Hari Perhitungan setiap tindakan akan dipertanyakan: kenapa, bagaimana, dan apa tujuan tindakan itu?
Pertanyaan pertama diajukan karena setiap orang semestinya bertindak berdasarkan dorongan Ilahi, bukan dorongan setan atau jasad semata. Jika pertanyaan ini dijawab dengan baik, pertanyaan kedua mempersoalkan bagaimana tindakan itu dilakukan, secara bijaksana, ceroboh, ataukah lalai. Dan pertanyaan ketiga mencari tahu apakah tindakan itu dilakukan demi mencari rida Allah ataukah untuk mendapat pujian manusia. Jika seseorang memahami arti ketiga pertanyaan ini, ia akan memperhatikan keadaan hatinya dan akan selalu berpikir sebelum bertindak. Mengawasi setiap lintasan pikiran yang muncul memang pekerjaan yang sangat berat dan musykil.
Orang yang tak mampu melakukannya mesti mengikuti bimbingan guru ruhani yang akan menerangi hatinya. Ia harus menghindari orang terpelajar yang hanya mementingkandunia, karena mereka adalah pendukung setan.
Allah berfirman kepada Daud a.s. "Wahai Daud, jangan bertanya tentang orang terpelajar yang telah dimabuk cinta dunia, karena ia akan merampok cinta-Ku darimu."
Dan Nabi saw. bersabda, " Allah mencintai orang yang cermat meneliti soal-soal yang meragukan dan yang tidak membiarkan akalnya dikuasai nafsu."
Nalar dan tugas pemilahan berkaitan erat, dan orang yang nalarnya tak mampu mengendalikan nafsunya tidak akan bisa mengawasi dan memilah pikiran serta tindakannya secara cermat. Selain mesti berpikir dan bertindak dengan cermat, kita juga harus memperhitungkan (muhâsabah) setiap tindakan yang telah dilakukan. Setiap malam, tanyalah hatimu, apa yang telah dilakukannya sepanjang hari ini sehingga kau bisa mengetahui apakah ia beruntung ataukah merugi. Ini penting dilakukan karena hati itu laksana rekan dagang yang curang yang selalu siap menipu dan mengelabui. Kadang-kadang Ia menampakkan egoismenya dalam bentuk ketaatan kepada Allah sedemikian rupa sehingga orang menyangka bahwa ia telah beruntung padahal sebenarnya ia merugi.
Seorang wali bernama Amiya, yang berusia enam puluh tahun, menghitung hari-hari dalam hidupnya dan ia dapati bahwa jumlahnya mencapai 21.600 hari. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Celakalah aku, seandainya aku melakukan satu dosa saja setiap harinya, bagaimana aku bisa melarikan diri dari timbunan 21.600 dosa?" Ia pun memekik dan rubuh ke tanah. Ketika orang-orang datang untuk membangunkannya, mereka dapati ia telah mati. Namun, sebagian besar manusia bersifat lalai dan tidak pernah berpikir untuk bermuhasabah. Jika setiap dosa yang dilakukan dianggap sebagai sebutir batu yang ditempatkan di sebuah rumah kosong, niscaya rumah itu akan segera dipenuhi batu. Jika malaikat pencatat menuntut upah bagi tugas menuliskan dosa-dosa kita, tentu kita akan segera bangkrut. Begitu banyak orang yang merasa puas menghitung biji tasbih setiap kali menyebut nama Allah, tetapi tak punya Muhasabah dan Zikir tasbih untuk menghitung ucapan sia-sia yang tak terbilang banyaknya.
Karena itu, Khalifah Umar berkata, "Timbang dengan cermat setiap kata-kata dan tindakanmu sebelum semua itu ditimbang di Hari Pengadilan nanti." Ia sendiri sebelum beristirahat di malam hari biasa memukul kakinya disertai rasa ngeri seraya berseru, "Apa yang telah kau lakukan hari ini?"
Dikisahkan bahwa ketika salat di kebun kurmanya, Abu Thalhah melupakan jumlah rakaatnya karena melihat seekor burung indah. Untuk menghukum dirinya karena lalai, kebun kurma itu ia hadiahkan. Orang suci seperti mereka mengetahui bahwa sifat indriawi cenderung tersesat. Karena itu mereka senantiasa mengawasinya dengan ketat dan menghukumnya setiap kali melakukan kesalahan.
Jika kau menyadari kebebalanmu dan merasa sulit mendisiplinkan diri, kau harus menyertai orang yang terbiasa mempraktikkan muhasabah agar semangat dan kegairahan spiritualnya menularimu. Seorang wali biasa berkata, "Jika aku lalai mendisiplinkan diri, aku menatap Muhammad ibn Wasi. Allah Yang Mahakuasa menciptakan hati manusia bagaikan sebuah batu api. Ia menyimpan api yang akan berpijar-pijarmusik dan harmoni, yang mampu memberikan ketenteraman kepadanya dan orang lain. Harmoni yang dinikmati manusia merupakan gema dari keindahan dunia yang lebih tinggi,yang kita sebut dunia ruh.Hanya dengan memandangnya, gairah ruhaniku seketika bangkit, setidaknya untuk seminggu." Jika kau tak dapat menemukan orang yang dapat diteladani, pelajarilah kehidupan para wali. Selain itu, kau juga mesti mendorong jiwamu agar tetap bersemangat.
"Wahai jiwaku, kau anggap dirimu cerdas, dan kau marah jika disebut tolol. Sebetulnya kau ini apa? Kau siapkan pakaian untuk menutupi tubuh dari gigitan musim dingin, tetapi tak kau persiapkan diri untuk akhirat. Sungguh kau seperti seseorang yang, saat musim dingin datang, berkata, 'Aku tak akan memakai pakaian hangat. Aku percaya, rahmat Tuhan akan melindungiku dari rasa dingin.' Ia lupa bahwa selain menciptakan dingin, Allah juga menunjuki manusia cara membuat pakaian untuk melindungi diri darinya dan menyediakan bahan-bahan untuk pakaian itu. Dan ingatlah juga, wahai jiwa,
kau dihukum di akhirat bukan karena Allah murka akibat tidak taatanmu, jangan pernah berpikir, 'Bagaimana mungkin dosa-dosaku mengganggu Allah?' Nafsumu sendirilah yang akan menyalakan kobaran neraka dalam dirimu. Tubuhmu sakit karena kau makan makanan yang tidak sehat, bukan karena dokter kesal karena kau melanggar nasihatnya."
Celakalah kau, wahai diri, karena kau berlebihan mencintai dunia! Jika kau tidak percaya pada surga dan neraka, bagaimana mungkin kau percaya kematian yang akan merenggut semua nikmat duniawi dan membuatmu jauh lebih menderita dibanding ketika kau terikat kepadanya? Untuk apa kau pergunakan dunia yang kau kumpulkan? Jika seluruh isi dunia, dari timur sampai barat, adalah milikmu dan semuanya menyembahmu, tetap saja kelak semuanya akan menjadi debu bersama dirimu, dan namamu akan musnah seperti raja-raja terdahulu. Lalu perhatikanlah wahai diri, karena yang kau miliki dari dunia ini hanyalah bagian yang sangat kecil dan kotor; akankah kau bertingkah gila: menukar kebahagiaan abadi (akhirat) dengan bagian duniamu, permata yang mahal dengan sebuah gelas pecah terbuat dari lempung dan menjadikan dirimu bahan tertawaan orang-orang di sekitarmu?
PERKAHWINAN
Pendorong ataukah Perintang Kehidupan Beragama?
PERKAWINAN MEMAINKAN peranan besar dalam kehidupan manusia sehingga ia perlu diperhitungkan saat kita membahas tema spiritualitas. Kita akan membahasnya dari dua aspek yang berlawanan, yaitu keuntungan dan kerugiannya.
Ada beberapa keuntungan yang didapat dari perkawinan: pertama, kita tahu bahwa Allah menciptakan manusia dan jin untuk beribadah. Berkat perkawinan, jumlah para penyembah Allah semakin bertambah banyak. Karena itu, ada sebuah pepatah yang dikenal di antara para ahli kalam: sibukkan dirimu dalam tugas-tugas perkawinan ketimbang dalam ibadah-ibadah sunat.
Kedua, Nabi saw. bersabda, "Doa anak-anak bermanfaat untuk orangtuanya saat keduanya telah meninggal, dan anak-anak yang meninggal sebelum orangtuanya akan memintakan ampun bagi keduanya di Hari Pengadilan."
Dalam riwayat yang lain Nabi bersabda, "Ketika seorang anak diperintah untuk masuk surga, ia menangis dan berkata, "Aku tak mau masuk jika tidak beserta ayah dan ibu."
Dan diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi saw. menarik dengan keras lengan seseorang ke arah dirinya sambil berkata, "Begitulah anak-anak akan menarik orangtuanya kesurga." Lalu beliau menambahkan, "Anak-anak antri berdesakan dipintu surga seraya menjerit memanggil ayah dan ibunya sehingga orangtua yang masih berada di luar diperintah untuk masuk dan bergabung dengan anak-anak mereka."
Dikisahkan bahwa seorang wali yang termasyhur suatu ketika memimpikan Hari Kiamat telah tiba. Matahari mendekat kebumi dan manusia mati karena dahaga. Sekelompok anak-anak berjalan kian kemari memberikan air dari cawan emas dan perak. Tetapi ketika sang wali meminta, mereka tak mau memberi. Salah seorang anak itu berkata kepadanya, "Tak ada anakmu di antara kami." Segera setelah bangun, ia bertekad untuk menikah.
Ketiga, melalui perkawinan setiap pasangan akan merasakan ketenangan dan ketenteraman. Duduk bersama dan memperlakukan istri dengan baik merupakan perbuatan yang memberi kita rasa santai setelah melakukan tugas keagamaan. Dan, setelah itu, kita bisa kembali beribadah dengan semangat baru.
Itu pulalah yang dilakukan baginda Nabi saw.: ketika beban berat wahyu mengimpitnya, ia menyentuh istrinya Aisyah dan berkata: "Bicaralah kepadaku wahai Aisyah, bicaralah!" Rasul benar-benar menyadari bahwa sentuhan kemanusiaan yang hangat akan memberinya semangat dan kekuatan untuk menerima wahyu-wahyu baru.
Untuk alasan yang sama ia sering meminta Bilal untuk mengumandangkan azan dan kadang-kadang ia menghirup wewangian yang harum. Dalam sebuah hadis yang terkenal beliau bersabda, "Tiga hal yang aku cintai di dunia ini: wewangian, wanita, dan kenikmatan dalam salat."
Suatu kali Umar bertanya kepada Nabi tentang hal-hal yang paling penting untuk dicari di dunia ini. Beliau saw. menjawab: "Lidah yang selalu berzikir kepada Allah, hati yang penuh rasa syukur, dan istri yang amanat."
Dengan berumah tangga, seseorang akan mendapatkan istri yang akan membantunya memelihara rumah, memasak, mencuci, menyapu, dan sebagainya. Jika ia melakukan semua itu sendirian, ia tak bisa mencari ilmu, berdagang, atau melakukan aktivitas lain. Untuk alasan inilah Abu Sulaiman berkata, "Istri yang baik tidak hanya menjadi rahmat di dunia ini, tetapi juga di akhirat, karena ia memberikan waktu senggang kepada suaminya untuk memikirkan akhirat."
Bahkan, Khalifah Umar r.a begitu memuliakan kedudukan istri salihah dengan mengatakan bahwa "Setelah iman, tidak ada rahmat yang bisa menyamai istri salihah."
Perkawinan juga dapat melatih seorang laki-laki untuk bersabar menghadapi istri dengan segala aktivitasnya yang khas, memberinya segala yang dibutuhkannya, dan menjaga agar mereka tetap berada di jalan hukum. Semua itu merupakan bagian yang amat penting dari agama.
Nabi saw. bersabda; "Memberi nafkah kepada istri lebih penting daripada memberi sedekah."
Suatu kali, ketika Ibn Mubarak berpidato di hadapan pasukan yang hendak berperang melawan orang kafir, seorang sahabatnya bertanya, "Adakah pekerjaan lain yang memberi ganjaran lebih dibanding jihad?" "Ya," ujarnya, "yaitu memberi makan dan pakaian kepada istri dan anak dengan sepatutnya."
Waliyullah yang termasyhur, Bisyr al-Hafi, berkata, "Lebih baik bagi seseorang untuk bekerja bagi istri dan anak daripada bagi dirinya sendiri."Ā»
Dalam hadis diriwayatkan bahwa beberapa dosa hanya bisa di-tebus dengan menanggung tugas-tugas domestik.
Dikisahkan bahwa seorang wali ditinggal mati istrinya dan ia tak hendak menikah lagi meski orang-orang mendesaknya seraya berkata bahwa dengan begitu ia akan lebih mudah memusatkan diri dan pikirannya didalam uzlah. Pada suatu malam ia bermimpi melihat pintu surga terbuka dan beberapa malaikat turun mendekatinya. Salah satunya bertanya, "Inikah orang celaka yang egois itu?" malaikat lain menjawab: "Ya, inilah dia." Ia terkejut setengah mati sehingga tak sempat menanyakan siapakah yang mereka maksud. Tiba-tiba seorang anak laki-laki lewat dan berkata kepadanya, "Engkaulah yang sedang mereka bicarakan. Seminggu yang lalu perbuatan-perbuatan baikmu dicatat disurga bersama para wali yang lain, tetapi sekarang mereka telah menghapuskan namamu dari buku catatan itu." Setelah terjaga dengan pikiran penuh tanda tanya, ia segera berencana untuk menikah lagi. Semua penjelasan di atas menunjukkan betapa pentingnya perkawinan.
Sekarang mari kita bahas sisi negatif perkawinan. Salah satunya adalah kekhawatiran, terutama di masa sekarang, seorang suami mesti mencari nafkah dari jalan yang haram untuk menghidupi keluarganya, padahal dosa seperti ini tak dapat ditebus dengan perbuatan baik apa pun.
Nabi saw. bersabda bahwa pada Hari Kebangkitan akan ada laki-laki yang membawa tumpukan perbuatan baik setinggi gunung dan menempatkannya di dekat Mizan. Ketika ditanya, "Bagaimana kau hidup keluargamu?" ia tak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Akibatnya, semua perbuatan baiknya dihapus dan dikatakan kepadanya, "Inilah orang yang keluarganya telah menelan semua perbuatan baiknya!"
Dampak negatif lainnya muncul disebabkan kegagalan seseorang memperlakukan istri dan anggota keluarganya. Hanya orang yang bertabiat baik yang dapat memperlakukan keluarganya dengan baik dan sabar serta menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Memperlakukan keluarga dengan kasar atau mengabaikan mereka termasuk dosa besar.
Nabi saw. bersabda, "Seseorang yang meninggalkan istri dan anak-anaknya adalah seperti budak yang lari. Sebelum ia kembali kepada mereka, puasa dan salatnya tidak akan diterima oleh Allah."
Ringkasnya, karena semua manusia punya sifat-sifat rendah, orang yang tak bisa mengendalikan sifat-sifat itu tak layak memikul tanggung jawab untuk mengendalikan orang lain (menikah). Ketika seseorang menanyakan kenapa ia tidak menikah, Bisyr al-Hafi menjawab, 'Aku takut akan ayat Alquran yang berbunyi: hak-hak wanita atas laki-laki persis sama dengan hak-hak laki-laki atas wanita."
Dampak negatif lainnya muncul ketika urusan keluarga memalingkan seseorang dari mengingat Allah. Sering kali urusan keluarga menghalangi manusia untuk memusatkan perhatiannya kepada Allah dan akhirat. Dan sangat mungkin urusan keluarga akan menyeret ke jurang kehancuran kecuali ia berhati-hati. Allah telah berfirman, "Jangan sampai istri dan anak-anakmu memalingkanmu dari mengingat Allah." Orang yang berpikir bahwa dengan tidak menikah ia bisa menjalankan ibadah secara lebih baik, ia boleh membujang; dan orang yang takut terjatuh ke dalam dosa jika tidak menikah maka menikah menjadi jalan terbaik baginya. Agar perkawinan menjadi jalan keselamatan, seseorang harus memperhatikan calon istri yang hendak dinikahinya. Ada beberapa sifat utama yang mesti dimiliki seorang istri.
Yang pertama dan paling penting adalah kesucian akhlak. Jika istrimu berakhlak buruk dan kau diam saja maka namamu akan tercoreng dan agamamu akan rusak. Jika kau menegurnya, kehidupanmu akan terganggu. Dan bila kau ceraikan, kau pasti bersedih karena mesti berpisah dengannya. Seorang istri yang cantik tetapi berakhlak buruk adalah bencana yang teramat besar sehingga mencerainya menjadi jalan yang terbaik.
Nabi saw. bersabda, "Orang yang mencari istri karena kecantikan atau kekayaannya pasti akan kehilangan keduanya."
Sifat yang kedua adalah tabiat yang baik. Istri yang bertabiat buruk, tidak berterima kasih, suka bergunjing, atau angkuh akan menjadikan kehidupan rumah tangga layaknya neraka dan pasti akan menghalangi kemajuan seseorang dalam perjalan ruhaninya.
Sifat ketiga yang harus dicari adalah kecantikan, yang dapat menimbulkan cinta dan kasih sayang. Karenanya, seseorang harus melihat calon istrinya sebelum menikahinya.
Nabi saw. bersabda, "Wanita-wanita dari suku ini dan itu punya cacat di mata mereka. Orang yang ingin menikahi seseorang diantara mereka mesti melihatnya dulu."
Orang bijak berkata bahwa seseorang yang mengawini seorang wanita tanpa melihatnya lebih dulu, pasti akan menyesal kelak. Memang benar bahwa seseorang tidak seharusnya kawin demi kecantikan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa kecantikan mseti dianggap tidak penting sama sekali.
Sifat lainnya berkaitan dengan persoalan mahar yang diminta seorang istri. Mahar paling baik adalah yang pertengahan. Nabi saw. bersabda, "Wanita yang paling baik untuk diperistri adalah yang cantik namun kecil maharnya." Beliau sendiri memberi mahar kepada beberapa calon istrinya sekitar sepuluh dirham, dan mahar putri-putri beliau sendiri tidak lebih dari empat ratus dirham.
Sifat-sifat lain yang harus dimiliki seorang istri adalah berasal dari keturunan baik-baik, sepenuhnya belum menikah, dan hubungan keluarga dengan calon suaminya tidak terlalu dekat. Karena perkawinan berperan penting dalam kehidupan seseorang, beberapa hal berikut ini penting untuk diperhatikan: Pertama, karena perkawinan merupakan satu institusi keagamaan, ia mesti diperlakukan secara keagamaan. Jika tidak, pertemuan antara laki-laki dan wanita itu tak lebih baik dari kawinnya hewan. Syariat memerintahkan agar seseorang menggelar perjamuan dalam perkawinannya. Ketika Abdur rahman ibn Auf menikah, Nabi saw. berkata kepadanya, "Gelarlah jamuan nikah meski hanya dengan seekor kambing." Ketika Nabi saw. menikah dengan Shafiyah, beliau menggelar jamuan meski hanya dengan kurma dan gandum. Demikian pula, perkawinan sebaiknya dimeriahkan dengan permainan musik seperti tabuhan rebana, karena manusia adalah mahkota pencipta.
Kedua, suami mesti bersikap baik kepada istrinya. Ini tidak berarti ia tidak boleh menyakitinya, namun ia harus sabar menanggung semua perasaan tidak enak yang diakibatkan istrinya, baik karena sikapnya yang tidak masuk akal atau sikap tak berterima kasihnya. Wanita diciptakan lemah dan butuh perlindungan. Karenanya, ia mesti diperlakukan dengan sabar dan terus dilindungi.
Nabi saw. bersabda, "Orang yang sabar menanggung kekesalan akibat sikap istrinya akan memperoleh pahala sebesar yang diterima Ayub a.s. atas kesabarannya menanggung ujian." Menjelang ajal menjemputnya, Nabi saw. bersabda, "Berdoalah dan perlakukan istrimu dengan baik, karena mereka adalah tawananmu." Beliau sendiri selalu menghadapi tingkah laku istri-istrinya dengan sabar. Suatu hari istri Umar marah dan mengomelinya, Umar berkata kepadanya, "Hai kau yang berlidah tajam, berani kau mendebatku?" Istrinya menjawab, "Ya, penghulu para nabi lebih baik darimu, dan istri-istrinya mendebatnya." Lalu Umar berkata, "Celakalah Hafshah (Putrinya, istri Nabi saw.) jika ia tidak merendahkan dirinya." Dan ketika berjumpa Hafshah, ia berkata, "Awas, jangan pernah kau mendebat Rasulullah." Nabi saw. juga berkata, "Yang terbaik di antaramu adalah yang paling baik memperlakukan keluarganya, dan akulah yang terbaik kepada keluargaku."
Ketiga, suami mesti membolehkan istrinya beristirahat, rekreasi, dan menikmati kesenangannya. Nabi saw. sendiri pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah. Pada kali pertama Nabi saw. mengalahkan Aisyah dan pada kali kedua, Aisyah mengalahkannya. Di waktu lain, beliau menggendong Aisyah agar ia bisa melihat beberapa orang Arab negro menari. Kenyataannya, kita akan sulit menemukan suami yang begitu baik kepada istrinya seperti yang dicontohkan Nabi saw. Seorang bijak berkata, "Seorang suami mesti pulang dengan wajah yang ceria dan makan apa saja yang telah disediakan tanpa menuntut yang tidak ada." Meski demikian, ia pun tak boleh bersikap terlalu lemah sehingga istrinya tak lagi menghargainya. Jika istrinya berbuat salah, ia harus segera menegurnya. Jika tidak, ia akan menjadi bahan cemoohan.
Alquran menyatakan, "Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, dan Nabi saw. bersabda, "Celakalah laki-laki yang menjadi pelayan istrinya," karena istrilah yang seharusnya melayani suami. Seorang bijak berkata, "Bertanyalah kepada perempuan dan lakukan berkebalikan dengan nasihatnya."
Memang kebanyakan wanita cenderung suka menentang; dan jika dibiarkan sekejap saja, mereka akan melepaskan diri dari kendali dan sulit disadarkan kembali. Wanita harus diperlakukan secara tegas sekaligus penuh kasih, dan utamakanlah sikap lemah lembut. Nabi saw. bersabda, "Wanita diciptakan bak tulang iga yang bengkok. Jika kau memaksa meluruskannya, ia akan patah; jika kau Biarkan ia tetap bengkok. Karena itu, perlakukanlah ia dengan penuh kasih sayang.
Keempat, suami harus berhati-hati agar tidak membiarkan istrinya dipandang atau memandang orang asing, karena semua kerusakan berawal dari pandangan. Sebisa mungkin jangan izinkan ia keluar rumah, nongkrong di loteng, atau berdiri di pintu. Meski demikian, jangan mencemburuinya atau menekannya terlalu berlebihan. Suatu hari Nabi saw. bertanya kepada anaknya, Fatimah, "Apakah yang terbaik bagi wanita?" Ia menjawab, "Mereka tidak boleh menemui atau ditemui orang asing." Nabi saw. senang mendengar jawabannya dan memeluknya seraya berkata, "Sungguh, engkau bagian hatiku." Amirul Mukminin Umar berkata, "Jangan memberi wanita busana yang indah, karena segera setelah mengenakannya mereka ingin keluar rumah." Pada masa Nabi, wanita-wanita diizinkan pergi ke masjid dan salat di barisan paling belakang. Namun hal itu dilarang secara bertahap.Kelima, suami mesti menafkahi istrinya dengan layak dan tidak kikir, karena perbuatan itu lebih baik daripada memberi sedekah. Nabi saw. bersabda, «Seorang laki-laki yang menghabiskan satu dinar untuk berjihad, satu dinar untuk menebus budak, satu dinar untuk bersedekah, dan satu dinar untuk istrinya maka pahala pemberian yang terakhir ini melebihi jumlah pahala ketiga pemberian lainnya."
Keenam, suami tidak boleh makan sesuatu yang lezat sendirian. Kalaupun ia telah memakannya, ia tak boleh membicarakannya di hadapan istrinya. Jika tidak ada tamu, suami istri sebaiknya makan bersama, karena Nabi saw. bersabda, "Jika mereka melakukan itu, Allah menurunkan rahmatNya atas mereka dan para malaikat doa untuk mereka." Dan yang pun berpaling penting, nafkah yang diberikan harus didapatkan dengan cara-cara yang halal.
Jika istri memberontak dan tidak taat, suami harus menasihatinya secara lemah lembut. Jika ini tidak mempan, keduanya mesti tidur di kamar terpisah untuk tiga malam. Jika tak berhasil juga, suami boleh memukulnya, bukan di wajah dan tidak terlalu keras hingga melukainya. Jika istri melalaikan kewajiban agama, suami mesti menunjukkan sikap tidak senang kepadanya selama sebulan penuh, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi kepada istri-istrinya.
Setiap pasangan suami-istri harus berhati-hati agar perceraian tidak terjadi. Meski dibolehkan, Allah tidak menyukainya. Perkataan cerai akan mengakibatkan penderitaan bagi seorang wanita, sedangkan kita tak dibolehkan menyakiti perasaan apalagi membuat orang lain menderita! Jika cerai terpaksa dilakukan, kata cerai tak boleh diulangi tiga kali sekaligus, tetapi harus diucapkan pada tiga waktu yang berlainan. Seorang perempuan mesti dicerai secara baik-baik, tidak disertai kemarahan maupun penghinaan, dan tidak pula tanpa alasan. Setelah perceraian, seorang laki-laki mesti memberikan mut'ah kepada bekas istrinya, dan tidak menceritakan alasan atau kesalahan istrinya kepada orang lain.
Diriwayatkan, seseorang yang ingin menceraikan istrinya, ditanya, "Mengapa kau ingin menceraikannya?" Ia menjawab, "Aku tak akan membongkar rahasia istriku." Ketika akhirnya ia benar-benar menceraikannya, ia ditanya lagi dan menjawab, "Kini dia orang asing bagiku; aku tidak lagi mengurusi masalah pribadinya." Itulah sikap yang baik.
Itulah hak-hak istri dari suaminya, sementara hak-hak suami dari istrinya jauh lebih mengikat. Nabi saw. bersabda, "Andai saja dibolehkan untuk bersujud kepada sesuatu selain Allah, akan kuperintahkan agar para istri bersujud kepada suami mereka." Istri tidak boleh menyombongkan kecantikannya di depan suaminya, tidak boleh membalas kebaikan suami dengan sikap tidak berterima kasih. Istri tidak boleh berkata kepada suaminya, "Kenapa kau perlakukan aku begini dan begitu?"
Nabi saw. bersabda, "Aku melihat ke dalam neraka dan tampak di sana banyak wanita. Kutanyakan sebab-sebabnya dan dijawab bahwa itu karena mereka berlaku tidak baik kepada suami mereka dan tidak berterima kasih kepadanya."
CINTA KEPADA ALLAH
CINTA KEPADA Allah adalah topik paling penting dan tujuan akhir pembahasan buku ini. Di depan kita telah membahas ancaman dan rintangan ruhaniah yang merusak kecintaanmanusia kepada Allah. Kita bahas sifat-sifat baik pun yang diperlukan untuk membangkitkan dan menambah kecintaan kepada-Nya. Kesempurnaan manusia tercapai jika cinta kepada Allah memenuhi dan menguasai hatinya. Seandainya cinta kepada Allah tidak sepenuhnya menguasai hati, setidaknya ia menjadi perasaan paling dominan, mengatasi kecintaannya kepada selain Dia.
Tentu saja, kita suit mencapai tingkatan cinta kepada Allah. Tak heran jika sebuah mazhab kalam sama sekali menyangkal kenyataan bahwa manusia bisa mencintai suatu wujud yang bukan spesiesnya. Mereka mengartikan cinta kepada Allah hanya sebatas ketaatan kepada-Nya. Orang yang berpendapat seperti itu sesungguhnya tidak mengetahui apa makna agama yang sebenarnya. Seluruh muslim sepakat bahwa mereka wajib mencintai Allah, sebagaimana firman-Nya tentang sifat kaum beriman: "Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya,'
dan sabda Nabi saw., "Sebelum seseorang mencintai Allah dan Nabi-Nya melebihi cintanya kepada yang lain, imannya tidak benar." Ketika malaikat maut datang menjemput, Nabi Ibrahim berkata, "Pernahkah kau melihat seorang sahabat mengambil nyawa sahabatnya?" Allah menjawab, "Pernahkah kau melihat seorang kawan yang tidak suka melihat kawannya?" Maka Ibrahim pun berkata, "Wahai Izrail, ambillah nyawaku!"
Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi saw. kepada para sahabatnya:
"Ya Allah, berilah aku kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada orang- orang yang mencintai-Mu, dan segala yang membawaku lebih dekat kepada cintaMu. Jadikanlah cinta Mu lebih berharga bagiku daripada air dingin bagi orang yang kehausan."
Hasan al-Basri sering berkata, "Orang yang mengenal Allah akan mencintai-Nya dan orang yang mengenal dunia akan membencinya."
Sekarang kita akan membahas sifat cinta. Cinta bisa didefinisikan sebagai suatu kecenderungan kepada sesuatu yang menyenangkan. Contoh yang paling jelas tampak pada panca indra kita. Masing-masing indra mencintai sesuatu yang membuatnyasenang. Mata mencintai pemandangan yang indah, telinga mencintai musik dan suara yang merdu, dan seterusnya. Jenis cinta seperti ini juga dimiliki hewan. Tetapi manusia punya indra keenam, yakni persepsi, yang tertanam dalam hati dan tak dimiliki hewan. Fakultas persepsi membuat kita menyadari keindahan dan keunggulan ruhani.
Karena itulah seseorang yang hanya mengenal kesenangan indriawi tidak akan bisa memahami maksud Nabi saw. ketika menyatakan bahwa ia mencintai salat melebihi cintanya pada wewangian dan wanita. Sebaliknya, orang yang matahatinya telah terbuka untuk melihat keindahan dan kesempurnaan Allah pasti akan meremehkan semua penglihatan luar meski semua tampak indah di mata. Manusia yang hanya mengenal kesenangan indriawi akan mengatakan bahwa keindahan ada pada rupa yang warna-warni, keserasian anggota tubuh, dan seterusnya, namun tak bisa melihat keindahan moral yang dimaksudkan oleh orang-orang ketika mereka membicarakan seseorang yang bertabiat baik. Tetapi menurut orang yang punya pandangan lebih dalam, kita dapat mencintai orang-orang besar yang telah mendahului mereka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar, yang memiliki karakter mulia meski jasad mereka telah bercampur debu. Cinta seperti itu tidak melihat bentuk luar, tetapi mencermati sifat-sifat ruhani. Bahkan ketika kita ingin membangkitkan rasa cinta seorang anak kepada orang lain, kita tidak menguraikan keindahan tubuhnya, tetapi keunggulan moralnya.
Jika prinsip ini kita terapkan untuk kecintaan kepada Allah, kita akan mendapati bahwa hanya Dia satu-satunya yang pantas dicintai. Seseorang yang tidak mencintai Allah berarti tak mengenali-Nya. Karena alasan inilah kita mencintai Muhammad saw., nabi dan kekasih-Nya. Cinta kepada Nabi saw. berarti cinta kepada Allah. Begitu pula, cinta orang yang berilmu dan bartakwa sesungguhnya merupakan cinta kepada Allah. Kita akan memahami hal ini lebih jelas kalau kita membahas fakor-faktor yang membangkitkan cinta kepada Allah.
Faktor pertama adalah bahwa manusia selalu mencintai dirinya dan kesempurnaan sifatnya. Ini mengantarkannya langsung menuju cinta kepada Allah, karena keberadaan manusia dan sifat-sifatnya tak lain adalah anugerah Allah. Kalau bukan karena kebaikan-Nya, manusia tidak akan pernah muncul dari balik tirai ketiadaan ke dunia kasat mata ini. Pemeliharaan dan pencapaian kesempurnaan manusia juga sepenuhnya bergantung kepada kemurahan Allah. Sungguh aneh, ada orang yang berlindung dari panas matahari di bawah bayangan sebuah pohon tetapi tidak mensyukuri pohon itu sumber bayangan yang tanpanya pasti tak akan ada Tuhan itu satu, tetapi Dia akan terlihat dalam banyak modus yang berbeda, persis seperti sebuah benda tecermin dalam beragam cara melalui sejumlah cermin; ada yang memantulkan bayangan yang lurus, ada yang baur, ada yang jelas, juga ada yang kabur. Cermin yang kotor dan rusak bisa jadi akan mengubah tampilan benda yang indah menjadi tampak buruk. Begitu pula manusia yang datang ke akhirat dengan hati yang kotor, rusak, dan gelap.
Sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan bagi orang lain justru membuatnya sedih dan menderita. bayangan sama sekali. Kalau bukan karena Allah, manusia tidak akan ada dan tidak akan punya sifat-sifat. Karenanya, setiap orang pasti dan mesti mencintai Allah, kecuali orang-orang yang tidak mengetahui Nya. Mereka tak bisa mencintai-Nya, karena cinta kepada-Nya memancar langsung dari pengetahuan tentang-Nya. Dan sejak kapankah orang yang bodoh punya pengetahuan?
Faktor kedua adalah cinta manusia kepada pendukungnya, dan sesungguhnya yang senantiasa mendukung dan membantu manusia hanyalah Allah. Sebab, kebaikan apa pun yang diterimanya dari sesama manusia pada hakikatnya disebabkan oleh dorongan langsung dari Allah. Motif apa saja yang menggerakkan seseorang memberi kebaikan kepada orang lain, apakah itu keinginan untuk mendapat pahala atau nama baik, sesungguhnya digerakkan oleh Allah.
Faktor ketiga adalah perenungan terhadap sifat-sifat Allah, kekuasaan, dan kebijaksanaan-Nya. Kekuasaan dan kebijaksanaan manusia hanyalah cerminan paling lemah dari kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya. Cinta seperti ini mirip dengan cinta kita kepada orang-orang besar di masa lampau, seperti Imam Malik dan Imam Syafi'i meski kita tak pernah berharap mendapat keuntungan dari mereka. Inilah cinta yang tanpa pamrih.
Allah berfirman kepada Nabi Daud, "Hamba-Ku yang paling mencintai-Ku adalah yang tidak mencari-Ku karena takut dihukum atau mengharapkan pahala. Ia mencari-Ku hanya untuk membayar hutangnya kepada ketuhanan-Ku."
Dalam Alkitab tertulis: "Siapakah yang lebih kafir daripada orang yang menyembah-Ku karena takut neraka atau mengharap surga? Jika tidak Kuciptakan keduanya, tidak pantaskah Aku untuk disembah?"
Faktor keempat adalah adanya "kemiripan" antara manusia dan Allah. Inilah makna sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya."
Dan dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: "Hamba Ku mendekat kepada-Ku sehingga Aku menjadikannya sahabat-Ku. Lantas, Aku menjadi telinganya, matanya, dan lidahnya." Dan Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku sakit tetapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab, "Ya Allah, Engkau adalah penguasa langit dan bumi, bagaimana mungkin Engkau sakit?" Allah berfirman, "Salah seorang hamba-Ku sakit. Dengan menjenguknya berarti kau telah mengunjungi-Ku."
Memang tema ini agak riskan diperbincangkan karena berada di luar pemahaman orang awam. Orang yang cerdas sekalipuntersandung ketika membicarakan masalah ini sehingga mereka meyakini adanya inkarnasi dan persatuan dengan Allah. Meski demikian, kemiripan antara manusia dan Allah menjawab keberatan teolog Zahiriah yang berpendapat bahwa manusia tidak bisa mencintai wujud yang bukan dari spesiesnya sendiri. Betapa pun jauh jarak yang memisahkan keduanya, manusia bisa mencintai Allah karena kemiripan yang diisyaratkan dalam sabda Nabi: "Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya."
MELIHAT ALLAH
SEMUA MUSLIM mengakui percaya bahwa melihat Allah adalah puncak kebahagiaan manusia, sebagaimana dikatakan syariat. Tetapi kebanyakan pengakuan mereka hanyalah pengakuan lisan yang tidak disertai keyakinan yang teguh. Fenomena in tidaklah mengherankan karena bagaimana bisa manusia mendambakan sesuatu yang tak diketahuinya! Kami akan berusaha menjelaskan secara ringkas, kenapa melihat Allah menjadi kebahagiaan terbesar manusia. Semua fakultas dalam diri manusia sesungguhnya memiliki fungsi tersendiri yang harus dipenuhi. Masing-masing punya kebaikannya sendiri, mulai dari nafsu jasadi yang paling rendah hingga pemahaman intelektual yang tertinggi. Namun, bahkan upaya mental yang paling kecil sekalipun akan memberikan kesenangan yang lebih besar daripada pemuasan hasrat jasad. Begitulah, seseorang yang telah larut dalam permainan catur tidak akan ingat makan meski berulang kali dipanggil. Dan, semakin tinggi pengetahuan kita, semakin besar kegembiraan kita. Misal nya, kita merasa lebih senang mengetahui rahasia raja daripada rahasia wazir. Karena Allah merupakan objek pengetahuan tertinggi maka pengetahuan tentang-Nya pasti akan memberikan kesenangan yang sangat besar.
Orang yang mengenal Allah, di dunia ini, pasti merasa telah berada di surga "yang luas seluas langit dan bumi", yang buah-buahannya begitu nikmat dan bebas dipetik; dan surga yang tak menjadi sempit sebanyak apa pun penghuninya. Kendati demikian, nikmat pengetahuan masih jauh lebih kecil daripada nikmat penglihatan. Jelas saja, melihat orang yang kita cintai memberi kenikmatan yang jauh lebih besar ketimbang hanya mengetahui dan melamunkannya. Keterpenjaraan kita dalam jasad yang terbuat dari lempung dan air ini, dan kesibukan kita mengurusi dunia telah menciptakan tirai yang menghalangi kita dari melihat Allah meski hal itu tidak mencegah kita dari memperoleh sebagian pengetahuan tentang-Nya.
Karena alasan inilah Allah berfirman kepada Musa di Bukit Sinai: "Engkau tidak akan bisa melihat-Ku."
Penjelasannya seperti ini. Sebagaimana benih manusia akan menjadi manusia dan biji kurma yang ditanam akan tumbuh menjadi pohon kurma maka pengetahuan tentang Tuhan yang dicapai di bumi pun kelak akan menjelma menjadi penampakan Tuhan di akhirat. Orang yang tak pernah mempelajari pengetahuan itu tak akan bisa melihat Tuhan. Kendati demikian, Tuhan akan menampakkan diri-Nya kepada orang-orang yang mengetahui-Nya dengan kadar penampakan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka. Tuhan itu satu, tetapi Dia akan terlihat dalam banyak modus yang berbeda, persis seperti sebuah benda tecermin dalam beragam cara melalui sejumlah cermin; ada yang memantulkan bayangan yang lurus, ada yang baur, ada yang jelas, juga ada yang kabur. Cermin yang kotor dan rusak bisa jadi akan mengubah tampilan benda yang indah menjadi tampak buruk. Begitu pula manusia yang datang ke akhirat dengan hati yang kotor, rusak, dan gelap. Sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan bagi orang lain justru membuatnya sedih dan menderita. Orang yang hatinya telah dikuasai cinta kepada Allah tentu akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakan-Nya dibandingkan orang yang hatinya tidak didominasi cinta kepada-Nya.
Keadaan keduanya seperti dua orang yang sama-sama bemata tajam melihat wajah yang cantik. Orang yang mencintai pemilik wajah itu akan lebih berbahagia saat menatapnya ketimbang orang yang tidak mencintainya. Agar mendapat kebahagiaan sempurna, pengetahuan semata tanpa disertai cinta belumlah cukup. Dan cinta kepada Allah tak bisa memenuhi hati manusia sebelum hati-nya disucikan dengan zuhud dari cinta dunia. Keadaan orang yang mencintai Allah didunia ini adalah seperti pecinta yang akan melihat wajah kasihnya di keremangan senja, sementara pakaiannya dipenuhi lebah dan kalajengking yang terus menyiksanya. Ia akan merasakan kebahagiaan sempurna saat matahari terbit dan menampakkan wajah sang kekasih dengan segenap keindahannya disertai matinya semua binatang berbisa yang selalu mengusiknya. Seperti itulah keadaan hamba yang mencintai Allah setelah keluar dari keremangan dan terbebas dari bala yang menyiksa di dunia ini. Ia akan melihatNya tapa tirai.
Abu Sulaiman berkata, "Orang yang sibuk dengan dirinya di dunia, kelak akan sibuk dengan dirinya; dan orang yang sibuk dengan Allah di dunia, kelak akan sibuk dengan-Nya."
Yahya in Mu'adz meriwayatkan bahwa ia mengamati Bayazid Bistami dalam salatnya sepanjang malam. Usai salat, Bayazid berdiri dan berkata, "Ya Allah! Sebagian hamba telah meminta dan mendapat kemampuan luar biasa, berjalan di atas air atau terbang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; sebagian lainnya meminta dan mendapat limpahan harta, tetapi bukan itu pula yang kuminta." Kemudian Bayazid berpaling dan ketika melihat Yahya, ia bertanya,
"Engkaukah itu Yahya?" "Ya." "Sejak kapan?" "Cukup lama." Kemudian Yahya memintanya agar mengungkapkan beberapa pengalaman ruhaniahnya." "Akan kuungkapkan," jawab Bayazid,"apa yang boleh diceritakan kepadamu. Yang Maha kuasa telah memperlihatkan kerajaan Nya kepadaku, dari yang paling mulia hingga yang paling hina. Ia mengangkatku ke atas Arasy dan Kursi-Nya dan ketujuh langit. Kemudian Dia berkata, 'Mintalah kepada-Ku apa yang kau inginkan.' Aku menjawab, 'Ya Allah! Tak ku ingini sesuatu pun selain Engkau.' Dia berkata, 'Sungguh, engkaulah hamba-Ku." Di kesempatan yang berbeda Bayazid berkata, "Jika Allah menawarkanmu keakraban dengan-Nya seperti keakraban Ibrahim kepada-Nya, kekuatan doa Musa, dan keruhanian Isa, mintalah agar wajahmu terus mengarah kepada-Nya. Cukuplah itu bagimu, karena Dia memiliki khazanah yang bahkan melampaui semua ini."
Suatu hari seorang sahabatnya berkata, "Selama tiga puluh tahun aku berpuasa di siang hari dan salat di malam hari, tetapi sama sekali tak ku dapati kebahagiaan ruhaniah yang sering kau sebut-sebut itu." Bayazid menjawab, "Meski kau berpuasa dan salat selama tiga ratus tahun, kau tetap tidak akan mendapatkannya."
"Kenapa?"
"Karena perasaan mementingkan diri sendiri telah menjadi tirai antara dirimu dan Allah.""Lalu, bagaimana menyembuhkannya?""Kau tidak mungkin bisa melaksanakannya." Namun, sahabatnya itu bersikeras memohon hingga akhirnya Bayazid berkata, "Pergilah ke tukang cukur terdekat, cukurlah jenggotmu. Buka semua pakaianmu kecuali korset yang melingkari pinggangmu. Ambillah sebuah kantong penuh buah kenari, gantungkan di lehermu, pergilah ke pasar dan berteriaklah: 'Setiap orang yang memukul tengkukku akan mendapat satu buah kenari.' Kemudian dalam keadaan seperti itu, pergilah ke tempat para kadi dan fakih."
'Astaga!" kata temannya, "aku tak bisa melakukannya. Adakah cara penyembuhan yang lain?"
"Yang kusebutkan tadi barulah langkah awal untuk menyembuhkan penyakitmu. Namun, seperti telah kukatakan, kau tak bisa disembuhkan." Bayazid menunjukkan cara penyembuhan seperti itu karena sahabatnya itu sangat ambisius mengejar kedudukan dan kehormatan. Ambisi dan kesombongan adalah penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan cara-cara seperti itu.
Allah berfirman kepada Isa, "Wahai Isa, jika Kulihat di hati para hamba Ku kecintaan yang murni kepada Ku, yang tidak ternodai nafsu mementingkan diri sendiri di dunia maupun dia akhirat, maka Aku akan menjadi penjaga cinta itu.'
Dan diriwayatkan bahwa ketika orang-orang meminta Isa a.s. menyebutkan amal yang paling mulia, ia menjawab, "Mencintai Allah dan memasrahkan diri kepada kehendak-Nya."
Ketika ditanya apakah ia mencintai Nabi saw., Rabiah al-Adawiyah menjawab, "Kecintaan kepada Sang Pencipta telah mencegahku mencintai mahluk." Ibrahim ibn Adam dalam doanya berkata, "Ya Allah, di mataku, surga masih lebih rendah dari seekor serangga jika dibanding cintaku kepada-Mu dan kebahagiaan mengingat Mu yang telah Kau anugerahkan kepadaku." Sungguh telah tersesat jauh orang yang menduga bahwa kebahagiaan di akhirat bissa dinikmati tanpa kecintaan kepada Allah. Sebab, tujuan utama kehidupan manusia ada la sampai kepada Allah kelak di akhirat sebagaimana sampainya seseorang pada sesuatu yang sangat didambakan. Kebahagiaan pertemuan dengan-Nya, setelah melewati pelbagai rintangan yang tak terbilang, sungguh tak terkatakan. Itulah kebahagiaan puncak manusia di akhirat. Namun, kebahagiaan itu takkan pernah dirasakan oleh orang yang tak pernah mencintai-Nya dan tak merasa senang kepada-Nya di dunia. Jika rasa senang kepada Allah di dunia teramat kecil, tentu di akhirat pun rasa senangnya sangat kecil.
Ringkasnya, kebahagiaan kita di masa datang sama persis kadarnya dengan kecintaan kita kepada Allah di masa sekarang. Nasib yang jauh lebih buruk di akhirat, kita berlindung kepada Allah dari mendapat nasib seperti ini akan menimpa orang yang semasa di dunia justru mencintai sesuatu yang bertentangan dengan Allah. Baginya, negeri akhirat akan menjadi tempat penderitaan tak berkesudahan. Segala hal yang membuat orang lain bahagia akan membuatnya sedih dan menderita. Keadaannya tak berbeda dengan seorang pemakan bangkai yang pergi ke toko minyak wangi. Ketika mencium aroma yang sangat wangi, ia jatuh pingsan. Orang-orang mengerumuninya dan memercikkan air mawar kepadanya, kemudian menciumkan misik (minyak wangi) ke hidungnya. Namun keadaannya justru semakin parah.
Akhirnya, datanglah seseorang, yang juga pemakan bangkai. Ia mendekatkan sampah ke hidung orang itu. Segera ia bangkit sadarkan diri, mendesah puas, "Wah, ini baru wangi!" Dengan demikian, para budak dunia tidak akan merasakan kenikmatan akhirat. Kebahagiaan ruhaniah di akhirat tidak akan mendekati mereka, bahkan membuat mereka semakin menderita. Hasrat-hasrat kotor mereka di dunia akan dibalas dengan balasan yang kotor pula. Akhirat adalah dunia ruh yang merupakan pengejawantahan dari keindahan Allah. Karenanya, ia tak layak bagi orang yang berpikiran dan berperilaku kotor. Kebahagiaan itu hanya akan diberikan kepada orang yang berusaha menggapainya dan tertarik kepadanya. Mereka mencurahkan energi dalam zuhud, ibadah, dan perenungan sehingga ketertarikan mereka semakin menguat. Itulah arti cinta yang sesungguhnya.
Mereka itulah yang disebutkan ayat:
"Orang yang telah menyucikan jiwanya akan berbahagia." Ketertarikan pad kebahagiaan ukhrawi tidak akan dimiliki oleh orang yang selalu bergelimang dosa dan syahwat duniawi.
Orang yang hatinya telah dikuasai cinta kepada Allah tentu akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakan-Nya dibandingkan orang yang hatinya tidak didominasi cinta kepada-Nya.
Keadaan keduanya seperti dua orang yang sama-sama bemata tajam melihat wajah yang cantik. Orang yang mencintai pemilik wajah itu akan lebih berbahagia saat menatapnya ketimbang orang yang tidak mencintainya.Mereka akan menderita di akhirat. Alquran menyatakan, "Dan orang yang mengotori jiwanya akan merugi. Orang yang dianugerahi wawasan ruhaniah memahami kebenaran ini sebagai kenyataan-teralami, bukan sekadar ungkapan tanpa makna. Karena itulah mereka yakin betul bahwa orang yang membawa kebenaran itu benar-benar seorang nabi, sebagaimana telah belajar kedokteran meyakini kebenaran ucapan seorang dokter. Keyakinan semacam ini tak lagi membutuhkan dukungan mukjizat, seperti mengubah tongkat menjadi ular yang masih mungkin dipengaruhi oleh mukjizat-mukjizat sejenis yang dilakukan para ahli sihir.
TANDA-TANDA CINTA KEPADA ALLAH
BANYAK ORANG mengaku mencintai Allah, tetapi mereka harus mempertanyakan kembali, semurni apakah kecintaan mereka itu? Kecintaannya itu harus diuji, di antara de-ngan tidak membenci kematian, karena seorang "teman" tidak akan takut bertemu dengan "teman"nya. Nabi saw. bersabda, "Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya." Memang benar, seorang pecinta Allah yang ikhlas mungkin saja takut akan kematian sebelum tuntas mempersiapkan dirinya untuk kehidupan akhirat.
Namun, jika ia benar-benar ikhlas, pasti ia akan bersemangat mempersiapkan diri. Jadi, salah satu tanda bahwa seseorang mencintai Allah adalah tidak takut mati.
Tanda berikutnya adalah kesediaan seseorang untuk mengorbankan segala hasrat dan kehendaknya demi mencapai kehendak Allah. Ia harus mengikuti dan melaksanakan segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah seraya menjauhkan diri dari segala yang menjauhkannya dari Allah. Kendati demikian, orang yang pernah melakukan dosa tidak lantas divonis tidak mencintai Allah sama sekali. Keberdosaannya itu semata-mata membuktikan bahwa ia tidak mencintai-Nya sepenuh hati.
Wali Fudhail berkata kepada seseorang, "Jika ada yang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepada Allah, diamlah; karena jika kau jawab 'Aku tidak mencintai-Nya,' kau telah kafir; dan jika kaujawab, 'Ya, aku mencintai-Nya,' berarti kau dusta karena banyak perbuatanmu yang bertentangan dengan pengakuanmu."
Tanda yang ketiga adalah pikiran yang selalu hidup dan segar berkat zikir kepada Allah. Setiap saat, ingatan kepada Nya tak pernah lepas dari pikirannya. Seorang pecinta pasti akan terus mengingat kekasihnya. Dan jika cintanya itu sempurna, tentu ia tidak akan pernah melupakan-Nya. Meski demikian, mungkin saja cinta kepada Allah tidak menempati tempat utama di hari seseorang, namun kecintaan akan cinta kepada Allah menguasai hatinya. Kedua hal itu, cinta kepada Allah dan kecintaan akan cinta kepada-Nya, sungguh berbeda.
Tanda cinta kepada Allah yang keempat adalah mencintai Alquran, firman Allah, dan mencintai Muhammad Nabiyullah. Lalu, jika cintanya benar-benar kuat, ia akan mencintai semua manusia, karena mereka semua adalah hamba Allah. Bahkan, cintanya akan meliputi seluruh mahluk, karena orang yang mencintai seseorang akan mencintai karya-karya cipta dan tulisan tangannya.
Tanda yang kelima adalah adanya hasrat yang kuat untuk beruzlah demi tujuan ibadah. Seorang yang mencintai Allah senantiasa mendambakan datangnya malam agar bisa berhubungan dengan Temannya tanpa halangan. Jika ia lebih menyukai bercakap-cakap di siang hari dan tidur di malam hari ketimbang melakukan uzlah seperti itu, berarti cintanya tidak sempurna.
Allah berkata kepada Daud a.s., "Jangan terlalu dekat dengan manusia, karena ada dua jenis manusia yang jauh dari kehadiran-Ku, yaitu orang yang bernafsu mencari imbalan namun semangatnya kendor setelah mendapatkannya, dan orang yang lebih menyukai pikiran-pikirannya sendiri daripada mengingatKu. Tanda-tanda keengganan Ku adalah Aku membiarkannya sendirian."
Sebenarnya, jika cinta kepada Allah benar-benar menguasai hati manusia, kecintaan kepada segala sesuatu yang lain akan sirna.
Dikisahkan bahwa seorang Bani Israil biasa salat di malam hari. Tetapi ketika melihat seekor burung yang selalu bernyanyi dengan merdu di atas sebatang pohon, ia mulai salat di bawah pohon itu agar dapat menikmati nyanyian burung itu. Allah memerintahkan Daud a.s. untuk mengunjunginya dan berkata kepadanya, "Engkau telah mencampurkan kecintaan kepada seekor burung yang merdu dengan kecintaan kepada Ku sehingga tingkatanmu di antara para wali melorot jatuh."
Di lain pihak, ada orang yang sangat mencintai Allah sehingga ketika sedang beribadah kepada-Nya dan rumah nya terbakar habis, ia tidak menyadarinya sama sekali.
Tanda yang keenam adalah perasaan ringan dan mudah untuk beribadah. Seorang wali berkata, «Selama tiga puluh tahun pertama aku menjalankan ibadah malamku dengan susah payah, tetapi tiga puluh tahun kemudian aku bahkan sangat menyukainya." Jika cinta kepada Allah sudah sempurna, tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah kepada-Nya.
Tanda ketujuh adalah mencintai orang yang menaati Nya dan membenci orang kafir dan orang yang tidak taat, sebagaimana dikatakan Alquran: "Mereka bersikap keras kepada orang kafir dan saling mengasihi di antara sesamanya."
Nabi saw. pernah bertanya kepada Allah, "Ya Allah, siapakah pencinta-pencinta-Mu?" Dia menjawab, "Orang yang berpegang erat kepada Ku layaknya seorang anak kepada ibunya; yang berlindung dalam mengingat-Ku sebagaimana seekor burung mencari perlindungan di sarangnya; dan orang yang murka melihat perbuatan dosa layaknya seekor macan ketika marah; ia tidak takut kepada apa pun."
DIANTARA SIFAT ORANG YANG PERCAYA DAN BERHARAP AKAN PERTEMUAN DENGAN TUHANNYA (ALLAH) Oleh Adnan Al Yani
TIDAK ADA SATU MAHKLUK YANG BOLEH MENERANGKAN TENTANG ALLAH
TIDAK TERTULIS KALIMAH TUHAN
TIDAK AKAN ADA SATU MAHKLUK PUN YANG BOLEH MENERANGKAN TENTANG "MAKRIFATULLAH" kerana "ALLAH TIDAK AKAN TERTERANGKAN DENGAN APA CARA SEKALIPUN
Katakanlah (wahai Muhammad): "Kalaulah semua jenis lautan menjadi tinta untuk menulis Kalimah-kalimah Tuhanku, sudah tentu akan habis kering lautan itu sebelum habis Kalimah-kalimah Tuhanku, walaupun Kami tambahi lagi dengan lautan yang sebanding dengannya, sebagai bantuan". (18.Surah Al-Kahf ayat 109)
Didalam surah dan ayat ini Allah telah berfirman memperjelaskan bahasa jika Allah jadikan keseluruhan air lautan sebagai dakwat untuk menulis, menghurai dan menerangkan tentang Allah, dan ditambah lagi dengan tujuh air lautan yang sama tetap tidak akan tertulis, tetap tidak akan terhurai dan tetap tidak akan terterangkan tentang Allah.
Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah".
Ucapkanlah (wahai Muhammad): "Alhamdulillah" (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian - tidak mengingkari Allah), bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat tauhid dan pengertian syirik). (31.Surah LuqmÄn ayat 25)
Allah jua yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi; sesungguhnya Allah Dia lah jua yang Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji. (31.Surah LuqmÄn ayat 26)
Dan sekiranya segala pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan segala lautan (menjadi tinta), dengan dibantu kepadanya tujuh lautan lagi sesudah itu, nescaya tidak akan habis Kalimah-kalimah Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (31.Surah LuqmÄn ayat 27)
(Bagi Allah Yang Maha Kuasa) soal menciptakan kamu semua (dari tiada kepada ada), dan soal membangkitkan kamu hidup semula sesudah mati, tidak ada apa-apa sukarnya, hanyalah seperti (mencipta dan menghidupkan semula) seorang manusia sahaja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. 31.Surah LuqmÄn ayat 28
Namun demikian Allah berfirman memperjelaskan tentang apa yang perlu dilakukan oleh orang yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan tuhannya (Allah)
Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Satu;
OLEH ITU, SESIAPA YANG PERCAYA DAN BERHARAP AKAN PERTEMUAN DENGAN TUHANNYA, HENDAKLAH IA MENGERJAKAN AMAL YANG SOLEH DAN JANGANLAH IA MEMPERSEKUTUKAN SESIAPAPUN DIDALAM IBADATNYA KEPADA TUHANNYA.. (18.Surah Al-Kahf ayat 110)
Apa yang telah jelas dan nyata dari firman Allah yang diatas ialah Allah tidak boleh nak diterangkan dengan kata-kata dan apa cara sekalipun..
Sesiapa yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan TuhanNya, Allah telah mengajar kita melalui firmanNya "HENDAKLAH IA MENGERJAKAN AMAL YANG SOLEH DAN JANGANLAH IA MEMPERSEKUTUKAN SESIAPAPUN DIDALAM IBADATNYA KEPADA TUHANNYA.."
Orang yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan tuhannya (Allah) dengan mengerjakan
"AMAL YANG SOLEH DAN IA TIDAK AKAN MEMPERSEKUTUKAN SESIAPAPUN DIDALAM IBADATNYA KEPADA TUHANNYA (ALLAH)"
Adalah merupakan orang yang khusyuk
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk; (2.Surah Al-Baqarah ayat 45)
(Iaitu) mereka yang percaya dengan yakin bahawa mereka akan menemui Tuhan mereka, dan bahawa mereka akan kembali kepadaNya. (2.Surah Al-Baqarah ayat 46)
Amal yang solleh ialah amal yang dilakukan dengan tidak disertakan dengan sebarang perbuatan syirik.
Sebenarnya Allah tidak akan boleh diterang dan dihuraikan dengan apa cara sekalipun. Jadi mengenal Allah "MAKRIFATULLAH" bukanlah berusaha untuk menerang dan menghuraikan tentang Allah tetapi mesti dilakukan mengikut sepertimana yang dikehendaki oleh Allah.
Diantara apa yang perlu dan boleh dilakukan oleh seseorang, untuk memboleh ia mengenal Allah ialah melakukan jalan untuk mengenal tuhanmu (Allah)
Sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) perihal Nabi Musa? (79.Surah An-NÄzi'Ät ayat 15)
Ketika ia diseru oleh Tuhannya di "Wadi Tuwa" yang suci; (79.Surah An-NÄzi'Ät ayat 16)
(Lalu diperintahkan kepadanya): "Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas (dalam kekufuran dan kezalimannya); (79.Surah An-NÄzi'Ät ayat 17)
"Serta katakanlah kepadanya: `Adakah engkau suka hendak mensucikan dirimu (dari kekufuran)? 79.Surah An-NÄzi'Ät ayat 18
`Dan mahukah, aku tunjuk kepadamu jalan mengenal Tuhanmu, supaya engkau merasa takut (melanggar perintahNya)? (79.Surah An-NÄzi'Ät ayat 19)
Nabi Musa menyeru kepada firaun "DAN MAHUKAH AKU TUNJUKKAN KEPADAMU JALAN MENGENAL TUHANMU"
Apa yang telah difirmankan ialah Jalan mengenal Tuhanmu bukan mengenal tuhanmu
Untuk Mengenal Allah setiap seorang itu mesti melalui jalan untuk mengenal Tuhanmu (ALLAH)
Atau melakukan jalan dan cara untuk menetapkan pegangan atau iktiqad dan tauhid
Dan sesungguhnya Kami telah menerangkan jalan-jalan menetapkan iktiqad dan tauhid dengan berbagai cara di dalam Al-Quran ini supaya mereka beringat; dalam pada itu, penerangan yang berbagai cara itu tidak menjadikan mereka melainkan bertambah liar. (17.Surah Al-'IsrÄ' ayat 41)
CARILAH YANG BOLEH MENYAMPAIKAN KEPADA ALLAH
Itulah keterangan-keterangan mengenai hari yang sungguh tetap berlakunya; maka sesiapa yang mahukan kebaikan dirinya, dapatlah ia mengambil jalan dan cara kembali kepada Tuhannya ! (78.Surah An-Naba' ayat 39)
ORANG YANG MELAKUKAN AMAL YANG SOLEH DAN IA TIDAK AKAN MEMPERSEKUTUKAN SESIAPAPUN DIDALAM IBADATNYA KEPADA TUHANNYA (ALLAH) ADALAH ORANG YANG BERSIH DARIPADA SEBARANG SYIRIK.
"YANG DIBERSIHKAN DARIPADA SEBARANG SYIRIK" ialah "SATU JALAN YANG LURUS" yang tidak boleh disesatkan oleh iblis dan syaitan
Iblis berkata: " Wahai Tuhanku! Kerana Engkau telah menjadikan daku sesat, (maka) demi sesungguhnya aku akan memperelokkan segala jenis maksiat kepada Adam dan zuriatnya di dunia ini, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, (15.Surah Al-Ĥijr ayat 39)
"Kecuali di antara zuriat-zuriat Adam itu hamba-hambaMu yang dibersihkan dari sebarang syirik". (15.Surah Al-Ĥijr ayat 40)
Allah berfirman: "Inilah satu jalan yang lurus, yang tetap Aku memeliharanya. (15.Surah Al-Ĥijr ayat 41)
"Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidaklah ada bagimu sebarang kuasa untuk menyesatkan mereka, kecuali sesiapa yang menurutmu dari orang-orang yang sesat (dengan pilihannya sendiri). (15.Surah Al-Ĥijr ayat 42)
"YANG DIBERSIHKAN DARIPADA SEBARANG SYIRIK" ialah merupakan sebenar-benar "IKHLAS"
Sesungguhnya hamba-hambaKu (yang beriman dengan ikhlas), tiadalah engkau (hai iblis) mempunyai sebarang kuasa terhadap mereka (untuk menyesatkannya); cukuplah Tuhanmu (wahai Muhammad) menjadi Pelindung (bagi mereka). (17.Surah Al-'IsrÄ' ayat 65)
Iblis berkata: " Demi kekuasaanmu (wahai Tuhanku), aku akan menyesatkan mereka semuanya, (38.Surah ÅÄd ayat 82)
" Kecuali hamba-hambaMu di antara zuriat-zuriat Adam itu yang ikhlas". (38.Surah ÅÄd ayat 83)
FIRMAN ALLAH YANG MENJELASKAN BERSIH DARIPADA SEBARANG SYIRIK IALAH MERUPAKAN SEBENAR-BENAR IKHLAS
Dalam pada itu, apabila mereka naik bahtera (lalu menemui sesuatu bahaya di laut), mereka memohon pertolongan kepada Allah dengan doa yang tulus ikhlas kepadaNya. Kemudian setelah Allah menyelamatkan mereka (naik) ke darat, mereka berlaku syirik kepadaNya. (29.Surah Al-`Ankabūt ayat 65)
FIRMAN ALLAH DIATAS MENUNJUKKAN TULUS IKHLAS LAWANNYA SYIRIK
Dan sesiapa yang berserah diri bulat-bulat kepada Allah (dengan ikhlas) sedang ia berusaha mengerjakan kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali ugama) yang teguh dan (ingatlah) kepada Allah jualah kesudahan segala urusan. (31.Surah LuqmÄn ayat 22)
Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran ini kepadamu (wahai Muhammad) dengan membawa kebenaran; oleh itu hendaklah engkau menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat dan bawaanmu kepadaNya. (39.Surah Az-Zumar ayat 2)
Ingatlah! (Hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala rupa syirik). Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung dan penolong (sambil berkata): "Kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya", sesungguhnya Allah akan menghukum di antara mereka (dengan orang-orang yang tidak melakukan syirik) tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik). (39.Surah Az-Zumar ayat 3)
Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayahNya. (3.Surah 'Äli `ImrÄn ayat 103)
KESIMPULAN DARI FIRMAN ALLAH SEPERTI DIATAS MENUNJUKKAN BAHAWA IKHLAS SAMA ERTINYA DENGAN BERSERAH DIRI BULAT-BULAT KEPADA ALLAH DAN JUGA MEMBAWA MAKSUD KEPADA BERSIH DARIPADA SEBARANG SYIRIK IAITU BERPEGANG DENGAN PEGANGAN ATAU IKTIQAD DAN TAUHID. INILAH JUGA YANG MERUPAKAN TALI ALLAH
ORANG YANG KHUSYUK IALAH ORANG YANG PERCAYA DENGAN YAKIN BAHAWA IA AKAN MENEMUI DAN AKAN KEMBALI KEPADA TUHANNYA (ALLAH)
ORANG YANG PERCAYA DAN BERHARAP AKAN PERTEMUAN DENGAN TUHANNYA (ALLAH) IALAH ORANG YANG TIDAK MEMPERSEKUTUKAN ALLAH DENGAN YANG LAIN
ORANG YANG TIDAK MEMPERSEKUTUKAN ALLAH DENGAN YANG LAIN IALAH ORANG BERSIH DARIADA SEBARANG SYIRIK.
"YANG DIBERSIHKAN DARIPADA SEBARANG SYIRIK" ialah "SATU JALAN YANG LURUS"
HANYA KEPADA ALLAH JUALAH TERTENTUNYA URUSAN MEMBERI PANDUAN YANG MENERANGKAN JALAN YANG LURUS
Dan kepada Allah jualah tertentunya urusan memberi panduan yang menerangkan jalan yang lurus; dan di antara jalan-jalan yang dituju ada yang terpesong dari kebenaran; dan jika Ia kehendaki, tentulah Ia memberi petunjuk kepada kamu semua (yang menyampaikan ke jalan yang lurus itu). (16.Surah An-NaĄl ayat 9)
JIKA ALLAH TIDAK PIMPIN, MANUSIA TIDAK MAMPU UNTUK MEMPEROLEHI PETUNJUK
Dan Kami cabutkan segala dendam dan hasad dengki dari hati mereka, (di dalam Syurga) yang mengalir beberapa sungai di bawah (tempat) masing-masing, dan mereka pula bersyukur dengan berkata: "Segala puji tertentu bagi Allah yang telah memberi hidayah petunjuk untuk (mendapat nikmat-nikmat) ini, padahal Kami tidak sekali-kali akan memperoleh petunjuk kalau Allah tidak memimpin kami (dengan taufiqNya); sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan kami dengan membawa kebenaran". Dan mereka diseru: "Itulah Syurga yang diberikan kamu mewarisinya dengan sebab apa yang kamu telah kerjakan". (7.Surah Al-'A`rÄf ayat 43)
JIKA ALLAH TIDAK PIMPIN DAN BERIKAN PETUNJUK, MAKA AKAN MENJADILAH ORANG YANG SESAT
Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), dia berkata: "Inikah Tuhanku?" Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: "Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat". (6.Surah Al-'An`Äm ayat 77)
ORANG YANG ALLAH JANJI UNTUK PIMPIN MEREKA KEJALAN YANG LURUS
ORANG YANG ALLAH JANJI UNTUK PIMPIN MEREKA KEJALAN YANG LURUS IAITU MENJADI SEORANG "YANG DIBERSIHKAN DARIPADA SEBARANG SYIRIK" IALAH
Dan sesungguhnya kalau Kami wajibkan kepada mereka (dengan perintah):
"BUNUHLAH DIRI KAMU SENDIRI, ATAU KELUARLAH DARI TEMPAT KEDIAMAN KAMU"
NESCAYA MEREKA TIDAK AKAN MELAKUKANNYA, KECUALI SEDIKIT DARIPADA MEREKA
Dan sesungguhnya kalau mereka amalkan nasihat pengajaran yang telah diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (iman mereka).
(4.Surah An-NisÄ' ayat 66)
Dan (setelah mereka melakukan seperti yang dikehendaki oleh Allah), tentulah Kami akan berikan kepada mereka - dari sisi Kami - pahala balasan yang amat besar;
(4.Surah An-NisÄ' ayat 67)
DAN TENTULAH KAMI PIMPIN MEREKA KE JALAN YANG LURUS. 4.Surah An-NisÄ' ayat 68
Salah satu daripada firman Allah yang telah memperjelaskan tentang satu jalan yang lurus yang tidak boleh disesatkan oleh iblis dan syaitan ialah
Iblis berkata: " Wahai Tuhanku! Kerana Engkau telah menjadikan daku sesat, (maka) demi sesungguhnya aku akan memperelokkan segala jenis maksiat kepada Adam dan zuriatnya di dunia ini, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, (15.Surah Al-Ĥijr ayat 39)
"Kecuali di antara zuriat-zuriat Adam itu hamba-hambaMu yang dibersihkan dari sebarang syirik". (15.Surah Al-Ĥijr ayat 40)
Allah berfirman: "Inilah satu jalan yang lurus, yang tetap Aku memeliharanya. (15.Surah Al-Ĥijr ayat 41)
"Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidaklah ada bagimu sebarang kuasa untuk menyesatkan mereka, kecuali sesiapa yang menurutmu dari orang-orang yang sesat (dengan pilihannya sendiri). (15.Surah Al-Ĥijr ayat 42)
Dengan ini menerangkan bahawa Allah akan memimpin orang yang melakukan perintah Allah
"BUNUHLAH DIRI KAMU SENDIRI, ATAU KELUARLAH DARI TEMPAT KEDIAMAN KAMU"
(Surah An-NisÄ' ayat 66)
Kejalan yang lurus iaitu dengan maksud Allah akan menjadikan orang yang melakukan perintah Allah
"BUNUHLAH DIRI KAMU SENDIRI, ATAU KELUARLAH DARI TEMPAT KEDIAMAN KAMU"
(Surah An-NisÄ' ayat 66)
Sebagai seorang "YANG DIBERSIHKAN DARIPADA SEBARANG SYIRIK"
Orang yang dibersihkan daripada sebarang syirik, mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan yang lain. Inilah orang yang percaya dan berharap alan pertemuan dengan tuhannya (Allah)
Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Satu;
OLEH ITU, SESIAPA YANG PERCAYA DAN BERHARAP AKAN PERTEMUAN DENGAN TUHANNYA, HENDAKLAH IA MENGERJAKAN AMAL YANG SOLEH DAN JANGANLAH IA MEMPERSEKUTUKAN SESIAPAPUN DIDALAM IBADATNYA KEPADA TUHANNYA.. (18.Surah Al-Kahf ayat 110)
Mereka inilah orang-orang yang khusyuk
KHUSYUK IALAH YAKIN AKAN MENEMUI TUHANNYA IAITU ALLAH DAN YAKIN AKAN KEMBALI KEPADANYA IAITU ALLAH
Navigasi kembali ke perpustakaan
ā Kembali ke Perpustakaan
AI_IKTIQAD_TAUHID_BUTTON
AI IKTIQAD TAUHID BUTTON START
š¤ BUKA AI IKTIQAD & TAUHID
Jika diminta, log masuk atau daftar ChatGPT dahulu. Selepas log masuk, projek AI Iktiqad & Tauhid akan dibuka.
AI IKTIQAD TAUHID BUTTON END
/AI_IKTIQAD_TAUHID_BUTTON
PT-UNIFORM-FOOTER-START
PERPUSTAKAAN TAUHID
Sumber AI: ChatGPT Ā ā¢Ā Penyusun Perpustakaan: Adnan Al-Yani
PT-UNIFORM-FOOTER-END
ā Kembali ke Indeks Tajuk